Kualitas Udara Batola dan Tabalong Berbahaya, ini Imbauan DLH Kalsel
WARTABANJAR.COM - Kualitas udara Kalimantan Selatan kembali memburuk, Kamis (22/10/2026).
Dua wilayah Kalsel masuk kualitas berbahaya berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalimantan Selatan (Kalsel) untuk empat wilayah pantauan kualitas Indeks Standar Pencemar Udara atau ISPU.
Hasilnya, kualitas udara Barito Kuala (Batola) dan Tabalong masuk kategori berbahaya.
Berikut data lSPU terbaru per 21 Oktober 2026 pukul 08.00 WITA untuk empat wilayah pantauan:
Kota Banjarmasin: 1139 (BERBAHAYA)
Kabupaten Banjar: 125 (TIDAK SEHAT)
Kabupaten Barito Kuala: 406 (SANGAT TIDAK SEHAT)
Kabupaten Tabalong: 385 (BERBAHAYA)
Kategori berbahaya dan sangat tidak sehat untuk kualitas udara disebabkan oleh kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Baca Juga Jadwal Pemadaman Listrik Bergilir di Batola Hari ini Sampai Jam 10 Malam
Baca Juga Relawan Karhutla Meninggal Berada di Baris Depan Pemadaman, Bupati Batola: Semoga Ini yang Terakhir
DLH Kalsel mengimbau seluruh masyarakat untuk wilayah BERBAHAYA dan SANGAT TIDAK SEHAT untuk melakukan langkah-langkah pencegahan berikut:
- Gunakan Masker di Luar Ruangan:
Selalu pakai masker (diutamakan masker N95 atau masker medis) saat beraktivitas di luar rumah untuk menyaring partikel mikroskopis (PM2:) yang berbahaya bagi paru-paru.
- Perbanyak Minum Air Putih:
Tingkatkan konsumsi air putih untuk membuang racun dalam tubuh, mencegah dehidrasi, serta meredakan tenggorokan yang gatal akibat paparan asap.
- Stop Kebakaran Lahan!
Dilarang keras membuka lahan dengan cara membakar. Tindakan ini tidak hanva merusak ekosistem
- Gunakan Masker di Luar Ruangan:
Selalu pakai masker (diutamakan masker N95 atau masker medis) saat beraktivitas di luar rumah untuk menyaring partikel mikroskopis (PM2-) yang berbahaya bagi paru-paru.
- Perbanyak Minum Air Putih:
Tingkatkan konsumsi air putih untuk membuang racun dalam tubuh, mencegah dehidrasi, serta meredakan tenggorokan yang gatal akibat paparan asap.
- Stop Kebakaran Lahan!
Dilarang keras membuka lahan dengan cara membakar. Tindakan ini tidak hanya merusak ekosistem tetapi juga membahayakan kesehatan diri
sendiri, keluarga, dan tetangga sekitar.