WARTABANJAR.COM, MARTAPURA - Menurunnya muka air di Waduk Riam Kanan membuka mata banyak pihak terhadap kerentanan sektor energi di Kalimantan Selatan. 

Ketergantungan yang tinggi pada Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dinilai menjadi titik rawan setiap kali musim kemarau atau kekeringan melanda.

Akademisi ULM sekaligus pengamat tata kota, Dr Eng Akbar Rahman mengungkapkan fenomena surutnya air waduk ini, merupakan simbol nyata dari krisis energi yang perlu dicermati secara mendalam.

Ia menyoroti persoalan pemadaman lampu yang kerap dikeluhkan masyarakat akhir-akhir ini, sebagai buah dari kurang cermatnya proyeksi kebutuhan energi di masa lalu.

”Ini kan bagian daripada masa lalu kita yang tidak dengan cermat memikirkan proyeksi itu. Seharusnya tidak boleh terjadi, ini menyebabkan terganggunya ketahanan energi kita di Kalsel hari ini,” ujarnya, Selasa (20/10/2026) sore. 

Ia mengingatkan, pertumbuhan penduduk yang pesat serta perkembangan sektor industri dan pembangunan, pasti akan mendongkrak lonjakan kebutuhan listrik dari waktu ke waktu. 

Oleh karena itu, pemerintah dan pihak terkait wajib mencermati angka proyeksi secara akurat, alih-alih bertindak reaktif ketika krisis sudah telanjur parah.

Baca Juga: Penurunan Debit Air Waduk Riam Kanan Kian Signifikan, Akademi: Alarm Darurat Ketahanan Air Bersih Kalsel

Baca Juga: PW IPNU Kalsel Salurkan Air Bersih di Kabupaten Banjar, Sasar Sejumlah Desa

”Jangan menunggu sampai daya itu habis dan tidak bisa memenuhi lalu kita baru kebingungan. Jangan mengambil tindakan yang merugikan masyarakat, misalkan dengan melakukan pemadaman bergilir dan sebagainya,” tegasnya.

Sebagai solusi jangka panjang, Dr Akbar mendesak adanya penggunaan berbagai macam sumber energi secara bersamaan (diversifikasi energi). 

”Maka ketahanan energi jangka panjang perlu dipikirkan secara mendalam, agar kita tidak selalu bergantung pada sumber energi yang memiliki risiko kritis pada musim kekeringan,” harapnya. 

Ia juga menilai Kalsel perlu mencari sumber energi alternatif atau menambah infrastruktur pembangkit baru, agar pasokan daya tidak lumpuh total saat musim kemarahan memangkas debit air waduk.