WARTABANJAR.COM, MARTAPURA - Penurunan debit air yang melanda Waduk Riam Kanan di Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar, belakangan ini bukan sekadar fluktuasi musim biasa. 

Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sekaligus pengamat tata kota, Dr Eng Akbar Rahman, menilai fenomena ini sebagai alarm darurat bagi ketahanan air bersih di Kalimantan Selatan (Kalsel).

Menurutnya, fungsi vital Waduk Riam Kanan tidak hanya bertumpu pada sektor kelistrikan, melainkan juga menjadi jantung pasokan air baku bagi masyarakat. 

Ketika volume air melorot, ancaman nyata langsung mengintai keberlangsungan hidup warga Banua.

”Maka ini bisa jadi sinyal ancaman terhadap ketahanan air kita saat ini. Menghadapi hal ini, sebenarnya jauh-jauh hari kita sudah harus memiliki mitigasi terkait keberadaan Waduk Riam Kanan sebagai infrastruktur vital di Kalsel,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (20/10/2026) sore. 

Sebagai langkah konkret, Dr Akbar menyarankan agar pengelola waduk segera menyusun estimasi neraca air secara komprehensif. 

”Perhitungan ini harus diproyeksikan secara terukur berdasarkan durasi tanpa hujan mulai dari skenario 30 hari, 60 hari, hingga 90 hari, tanpa pasokan hujan yang memadai,” ungkapnya. 

Baca Juga: PW IPNU Kalsel Salurkan Air Bersih di Kabupaten Banjar, Sasar Sejumlah Desa

Baca Juga: Turnamen Voli SMAN 2 Martapura Banjar, 39 Tim Pelajar Berebut Gelar Juara

Dari proyeksi tersebut, Dr Akbar menjelaskan, pihak berwenang dapat menetapkan zonasi yang jelas, yakni zona aman, zona waspada, hingga zona kritis. 

Langkah ini krusial agar tindakan nyata bisa langsung dieksekusi begitu ambang batas kritis terlampaui.

”Sehingga di situ kita bisa menempatkan dan menetapkan zona aman, waspada, hingga kritis. Pengelola Waduk Riam Kanan sangat penting membuat skala prioritas, yang harus dilakukan pada masa-masa kritis tersebut,” tegasnya.

Selain manajemen internal waduk, Dr Akbar juga menekankan pentingnya langkah preventif jangka panjang, seperti menyiapkan sumber air baku alternatif selain Riam Kanan. 

”Ketergantungan mutlak pada satu sumber air di tengah iklim yang kian ekstrem sangat berisiko bagi keselamatan publik,” paparnya.