Kasus ISPA di Kalsel Naik Jadi 11 Ribu per Minggu, Dinkes Siapkan 113 Rumah Oksigen
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kalimantan Selatan (Kalsel) mengalami peningkatan sekitar 60 persen sejak terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalsel mencatat, jumlah kasus yang sebelumnya berkisar 5.000 hingga 6.000 kasus per minggu, kini meningkat menjadi sekitar 8.000 hingga 11.000 kasus per minggu.
Kepala Dinkes Kalsel dr. H. Diauddin, M.Kes, mengatakan peningkatan tersebut terlihat melalui pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) dengan membandingkan jumlah kasus ISPA setiap pekan sebelum dan sesudah terjadinya karhutla.
“Awalnya setiap minggu antara 5.000 sampai 6.000 kasus ISPA. Setelah terjadinya karhutla, meningkat menjadi sekitar 8.000 sampai 11.000 kasus setiap minggunya,” ujar Diauddin saat diwawancarai, Selasa (20/10/2026).
Diauddin menjelaskan, saat ini jumlah kasus ISPA masih cenderung tinggi dibandingkan kondisi sebelum karhutla.
Rata-rata kasus yang tercatat mencapai sekitar 10.000 kasus per minggu, atau meningkat sekitar 60 persen dari kondisi sebelumnya.
Menurutnya, pemantauan berdasarkan jumlah kasus mingguan penting dilakukan untuk mengetahui perkembangan situasi kesehatan masyarakat, termasuk melihat apakah terjadi peningkatan atau penurunan kasus dari waktu ke waktu.
Terkait wilayah dengan jumlah kasus ISPA terbanyak, Diauddin menyebut Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar, dan Kota Banjarbaru masih mendominasi laporan kasus.
Kondisi tersebut kemungkinan turut dipengaruhi jumlah penduduk yang relatif besar di wilayah-wilayah tersebut.
Untuk mengantisipasi dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat, Dinkes Provinsi Kalsel telah meningkatkan kesiapsiagaan sejak akhir Juli 2026, sebelum kondisi karhutla semakin parah.
“Kami sejak akhir Juli sudah menyurati seluruh dinas kesehatan kabupaten/kota dan rumah sakit agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak karhutla,” katanya.
Langkah tersebut meliputi penguatan kesiapan sumber daya manusia (SDM) kesehatan, penyediaan obat-obatan, masker, serta berbagai kebutuhan pendukung pelayanan kesehatan untuk menghadapi dampak asap karhutla.
Selain itu, Dinkes Provinsi Kalsel menyiapkan 113 titik layanan atau rumah oksigen yang dilengkapi konsentrator oksigen.
Fasilitas tersebut ditempatkan di sejumlah puskesmas, rumah bidan, dan posyandu, terutama di wilayah yang dinilai paling terdampak kabut asap.