WARTABANJAR.COM, MARTAPURA - Tinggi muka air (TMA) Waduk Riam Kanan di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan terus menyusut hingga mencapai 54,915 meter di atas permukaan laut (mdpl) pada 12 Oktober 2026 lalu. 

Angka tersebut menjadi yang terendah sepanjang tahun ini.

Penyusutan air membuat tunggul-tunggul kayu yang sebelumnya terendam mulai muncul di sejumlah bagian waduk.

Kondisi ini berpotensi menghambat aktivitas pengguna jukung yang melintas di perairan.

Manager UP Tenaga Air Gunung Bamega Reza Permana mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati saat beraktivitas, terutama ketika melintasi bagian waduk yang berpotensi memiliki hambatan.

“Kami mengimbau agar dalam aktivitas tidak terburu-buru dan berhati-hati memperhatikan hambatan yang muncul akibat TMA rendah,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (14/10/2026). 

Baca Juga PAM Bandarmasih Tingkatkan Air Baku Intake Pematang, Dirut Paparkan Produksi dan Distribusi Saat Air Asin

Baca Juga Karhutla Ganggu Mahasiswa UMB Batola, Perkuliahan Daring Diterapkan 1-2 Pekan ke Depan

Reza mengungkapkan, penurunan muka air tersebut berlangsung sejak Juli hingga Oktober, dengan laju sekitar 2,5-3 sentimeter per hari. 

Kondisi kemarau yang masih berlangsung juga membuat TMA waduk berpotensi terus menyusut.

”Salah satu upaya yang kami lakukan menjaga debit air keluar waduk pada kisaran 13 meter kubik per detik. Pengaturan ini ditujukan untuk mengendalikan laju penurunan muka air,” jelasnya. 

Reza juga memaparkan, pengelolaan cadangan air dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan operasional pembangkit dan pasokan air.

“Sesuai prognosa, saat ini kami berupaya menjaga cadangan waduk agar operasional pembangkit tetap berjalan dan kebutuhan pasokan air, terutama untuk sistem penyediaan air minum (SPAM), dapat terpenuhi,” tandasnya.

Selain menjaga ketersediaan air, Reza juga mengingatkan untuk memperhatikan aspek keselamatan ketika beraktivitas di perairan Waduk Riam Kanan, khususnya di tengah munculnya hambatan akibat surutnya air. (wartabanjar.com)