Air Waduk Riam Kanan Terus Turun, Operasional PLTA Dihemat
WARTABANJAR.COM, MARTAPURA - Pengelola Waduk Riam Kanan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, mengurangi operasi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk menghemat cadangan air di tengah musim kemarau.
Langkah ini dilakukan setelah tidak ada tambahan air masuk ke waduk sejak 20 Juli 2026.
Bahkan, pada 12 Oktober 2026, tinggi muka air (TMA) tercatat 54,915 meter di atas permukaan laut (mdpl), turun 2,485 meter dibandingkan posisi 6 Juli yang mencapai 57,400 mdpl.
Manager Unit Pembangkitan (UP) Tenaga Air Gunung Bamega Reza Permana mengatakan, muka air waduk terus menyusut dengan laju sekitar 2,5-3 sentimeter per hari selama periode tersebut.
“Sejak 20 Juli 2026 tidak ada inflow masuk yang tercatat kami. Adapun outflow kita jaga di kisaran 13 meter kubik per detik,” ujarnya, Rabu (14/10/2026) siang.
Reza menambahkan, penurunan itu membuat pengelola perlu mengatur penggunaan air agar cadangan yang tersedia bisa menopang kebutuhan operasional pembangkit.
”Meski kapasitas operasi dibatasi, pembangkit listrik tetap dijalankan selama 24 jam,” ungkapnya.
Reza menjelaskan, langkah penghematan tersebut sudah dipertimbangkan sejak pengelola menerima informasi mengenai potensi El Nino yang signifikan pada tahun ini.
“Jadi kami mulai melakukan penghematan dengan mengurangi jumlah unit operasi menjadi satu unit dengan beban minimum,” paparnya.
Baca Juga TMA Waduk Riam Kanan Banjar Capai Titik Terendah Sepanjang 2026, Pengelola Jaga Pasokan Air
Penghematan dilakukan agar cadangan air dapat dipertahankan lebih lama. Berdasarkan prognosa pengelola, TMA waduk diperkirakan mencapai level minimum pada akhir November 2026.
“Diupayakan sampai dengan awal Desember agar keberlangsungan pasokan air terutama untuk sistem penyediaan air minum (SPAM) tetap terpenuhi,” ungkap Reza.
Di tengah belum adanya tambahan air masuk, Reza menegaskan pengaturan debit air keluar menjadi salah satu upaya untuk mengendalikan penyusutan muka waduk.
”Karena itu kita mempertahankan outflow sekitar 13 meter kubik per detik agar laju penurunan TMA berada pada kisaran yang telah diperhitungkan,” pungkasnya. (wartabanjar.com)