​Pengalaman serupa disampaikan oleh murid lainnya yang merasakan kemudahan saat latihan evakuasi akibat adanya penanda jalur yang jelas hasil karya mereka sendiri.

​“Kami jadi tahu bahwa membuat rambu itu ternyata bermanfaat sekali. Saat simulasi, kami bisa keluar kelas dengan tertib karena sudah ada tanda arah yang jelas,” kata Abdurahman Hakim, siswa kelas VIII.

​Dampak positif SATRIA rupanya meluas hingga ke lingkungan keluarga.

Para orang tua murid mengapresiasi edukasi keselamatan ini karena materi yang didapat anak-anak turut diterapkan di rumah.

​“Sebagai orang tua, saya merasa tenang. Anak saya pulang bercerita tentang cara menyelamatkan diri dan jalur evakuasi di sekolah. Ilmu ini penting bukan hanya di sekolah, tetapi juga di rumah. Kami berterima kasih kepada pihak sekolah atas program ini,” tutur Kamsuri, salah satu orang tua siswa.

​Apresiasi senada dilontarkan oleh wali murid lain yang melihat perubahan sikap anaknya menjadi lebih sigap dan peduli pada keselamatan anggota keluarga lainnya.

​“Anak-anak kini lebih disiplin dan sigap. Bahkan di rumah ia mengingatkan adik-adiknya tentang apa yang harus dilakukan jika terjadi kebakaran. Inovasi seperti ini patut didukung,” puji Norhasanah, orang tua siswa lainnya.

​Dukungan penuh juga mengalir dari pihak komite sekolah yang menilai keselamatan fisik peserta didik merupakan fondasi utama sebelum menjalankan proses belajar mengajar.

​“Komite sekolah menyambut baik dan mendukung penuh inovasi SATRIA. Keselamatan peserta didik adalah prioritas utama. Program ini melibatkan siswa secara langsung dan melatih mereka berpikir serta bertindak cepat. Kami berharap sekolah terus mengembangkannya dan rutin menggelar simulasi,” tegas Ketua Komite UPTD SMP Negeri 7 Pelaihari.

​Melalui keberlanjutan program SATRIA dan sinergi bersama BPBD serta orang tua, UPTD SMP Negeri 7 Pelaihari berharap dapat menekan risiko korban jiwa sekecil mungkin sekaligus menjadi percontohan budaya siaga bencana bagi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Tanah Laut. (Wartabanjar.com).