HST Luncurkan MSLSC dan BUTAH BAHARI, Dorong Guru Kuasai Bahasa Inggris dan Lestarikan Bahasa Banjar
WARTABANJAR.COM, BARABAI – Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) meluncurkan dua inovasi pendidikan yang menyasar kebutuhan berbeda, mulai dari peningkatan kemampuan Bahasa Inggris, hingga pelestarian Bahasa Banjar.
Kedua program tersebut, yakni Murakata Student Learning and Support Centre (MSLSC) dan BUTAH BAHARI HST (Bubuhan Revitalisasi Bahasa Daerah Banjar Lestari).
Keduanya diperkenalkan dalam Soft Launching MSLSC dan Launching BUTAH BAHARI di Pendopo Bupati HST, Rabu (07/10/2026).
MSLSC diarahkan untuk memperluas akses pembelajaran dan meningkatkan kompetensi guru serta generasi muda, sedangkan BUTAH BAHARI dikembangkan sebagai ruang digital untuk mendokumentasikan, sekaligus menghidupkan kembali penggunaan Bahasa Banjar di kalangan masyarakat.
Bupati HST Samsul Rizal melalui Sekda HST, M Pajaruddin, mengatakan meski bergerak di bidang yang berbeda, kedua inovasi tersebut memiliki tujuan yang saling melengkapi dalam membangun ekosistem pendidikan di daerah.
“Dua ikhtiar ini hadir dengan peran yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu membangun ekosistem pendidikan yang lebih terbuka, adaptif, inovatif, dan dekat dengan masyarakat,” ujar Pajaruddin menyampaikan pesan Bupati.
Baca Juga: Sehari Usai Kebakaran, Warga Jaranih HST Terima Bantuan Pemkab
Baca Juga: Mobil Terjun ke Selokan di Jalan Lingkar HST, Pengemudi Diduga Kurang Konsentrasi
Kepala Dinas Pendidikan HST, Muhammad Anhar, menjelaskan MSLSC dikembangkan untuk mengubah pola peningkatan kompetensi Bahasa Inggris, yang sebelumnya lebih banyak berbentuk pelatihan menjadi program yang berjalan secara berkelanjutan.
Program tersebut dibangun melalui kemitraan Pemkab HST, Briton English Education, serta Cambridge University Press & Assessment.
Salah satu sasaran utamanya yakni meningkatkan kompetensi 954 guru dari 250 SD, dari kemampuan awal A1 menuju level CEFR B1/B2.
Selain itu, English Club akan dikembangkan di 50 sekolah binaan, yang terdiri dari 33 SD dan 17 SMP.
Pengembangan MSLSC dilakukan karena kemampuan Bahasa Inggris guru masih perlu diperkuat. Berdasarkan pemetaan CEPT, mayoritas guru masih berada di bawah kompetensi minimal A2.