Sementara dalam program SBI Cambridge HST, hasil evaluasi Mei 2026 menunjukkan baru 15 persen siswa yang mencapai target CEFR.

“Yang kita dorong bukan sekadar pelatihan Bahasa Inggris, tetapi membangun ekosistem dan kelembagaan yang mampu mempercepat peningkatan kompetensi guru, memperluas akses masyarakat, sekaligus memiliki keberlanjutan secara kelembagaan dan pembiayaan,” jelas Anhar.

Selain aspek pembelajaran, MSLSC juga dirancang agar dapat berkembang secara mandiri dari sisi pembiayaan. 

Dalam lima tahun pertama, program tersebut diproyeksikan menghasilkan omzet lebih dari Rp8,1 miliar dengan kontribusi terhadap PAD lebih dari Rp2,4 miliar.

Sementara itu, BUTAH BAHARI mengambil jalur berbeda dengan memanfaatkan teknologi untuk memperkuat revitalisasi Bahasa Banjar.

Platform digital tersebut menjadi wadah untuk menghimpun berbagai kegiatan pelestarian bahasa daerah, termasuk karya murid, guru dan masyarakat, data guru serta peserta dan pemenang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI).

BUTAH BAHARI juga menyediakan ruang kreatif dan layanan digital untuk pelaporan pengimbasan, karya, bimbingan teknis, apresiasi hingga masukan dari masyarakat.

“Teknologi kita gunakan bukan untuk menggantikan budaya, tetapi untuk mendokumentasikan, memperluas akses, dan memastikan bahasa daerah tetap hidup di tengah generasi muda,” kata Anhar.

Menurutnya, MSLSC dan BUTAH BAHARI justru ditempatkan sebagai dua inovasi yang saling menguatkan. 

Satu sisi menyiapkan generasi HST agar memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk bersaing secara global, sementara sisi lainnya memastikan mereka tetap memiliki keterikatan dengan budaya daerah.

“Pendidikan harus mampu membawa anak-anak HST menguasai bahasa asing, tetapi pada saat yang sama tetap mengenal dan menjaga bahasa daerahnya. Jadi, kita ingin membangun generasi yang memiliki daya saing global sekaligus kuat identitasnya,” pungkasnya. (wartabanjar.com/*)