Wanita di AS Ditangkap Polisi karena Sering Curhat ke AI Claude
Anthropic mengatakan data dapat dibagikan, ketika perusahaan memiliki keyakinan dengan itikad baik, bahwa pengungkapan tersebut diperlukan untuk mencegah bahaya serius terhadap seseorang atau properti.
Dalam laporan transparansinya, Anthropic juga menjelaskan bahwa perusahaan memproses permintaan data dari aparat penegak hukum, sesuai hukum yang berlaku.
Permintaan tersebut dapat mencakup informasi isi percakapan, data non-konten, maupun permintaan pengungkapan dalam situasi darurat.
Anthropic sendiri belum memberikan komentar publik mengenai kasus Heller.
Heller dijadwalkan menjalani sidang pada 2 November 2026, dan kasusnya masih berjalan sehingga tuduhan terhadapnya belum menjadi putusan bersalah.
Kasus Heller bukan kejadian pertama ketika percakapan dengan chatbot AI diteruskan kepada aparat penegak hukum.
Setidaknya ada dua kasus lain yang melibatkan Claude sejak Agustus 2026.
Pada 11 Agustus 2026, seorang pria berusia 22 tahun di San Antonio, Texas, dilaporkan menggunakan chat AI buatan Anthropic, untuk membahas penembakan di sebuah sekolah dasar di dekatnya.
Polisi kemudian mendapat informasi mengenai percakapan tersebut melalui FBI, dan menangkap pria itu atas tuduhan membuat ancaman teroris.
Beberapa hari kemudian, pada 14 Agustus, seorang pengguna Claude di San Francisco dilaporkan mengancam CEO Anthropic, Dario Amodei.
Dalam percakapan tersebut, pria itu disebut mengatakan telah membeli senapan AR-15.
Anthropic kemudian melaporkan percakapan tersebut kepada kepoilisian San Francisco.
Pada Maret 2026, seorang pria Florida bernama Darren Zhou menggunakan ChatGPT untuk membicarakan rencana membunuh mantan kekasihnya.
OpenAI kemudian melaporkan percakapan tersebut kepada FBI, dan Zhou akhirnya ditangkap dan didakwa dengan sejumlah tindak pidana, termasuk penguntitan berat dan ancaman tertulis untuk membunuh.
Ia mengaku bersalah pada Agustus dan dijatuhi hukuman delapan tahun masa percobaan (probation). (Wartabanjar.com)