Kegagalan karier, pengkhianatan, penolakan, hingga kehilangan orang tercinta kerap hadir menyapa tanpa diundang di tengah perjalanan hidup anak muda.

Dampak dari ruang diskusi terbuka ini dirasakan langsung oleh para peserta. 

Mereka menyadari bahwa rasa sakit yang dialami sering kali bukan berasal dari peristiwanya semata, melainkan dari jarak antara harapan yang melambung dan kenyataan yang terjadi.

Konsep yang diusung Makmoer Bersama menekankan pentingnya “berdamai” dibanding “melupakan.” 

Memilih berdamai membantu seseorang merangkul setiap luka masa lalu sebagai bagian dari proses pendewasaan, ketimbang memaksakan diri menghapus ingatan yang sulit dilupakan.

Sesi berdurasi 1,5 jam tersebut memberikan dampak psikologis yang menenangkan bagi pengunjung.

Kebersamaan di atas meja kopi terbukti mampu mengikis rasa kesepian dan isolasi mandiri yang sering dialami anak muda saat menghadapi kegagalan.

Rahmat menegaskan bahwa kehadiran tempat ini bertujuan memberi kepastian bahwa tidak ada seorang pun yang berjuang sendirian di tengah kerasnya alur kehidupan.

“Karena saya percaya satu hal: kadang kita tidak membutuhkan orang yang bisa menyelesaikan masalah yang kita punya, tetapi kadang kita hanya membutuhkan di mana tempat kita bisa mengatakan Ternyata bukan aku aja yang merasakan ini,” tutur Rahmat.

Ajang diskusi alternatif seperti Baik Bareng Vol. 2 dan Secangkir Wacana ini diproyeksikan akan terus menjadi agenda rutin di Toko Kopi Makmoer Bersama untuk terus merawat ruang kritis dan empati anak muda Pelaihari. (Wartabanjar.com).