Pertemuan eksekutif tersebut turut dihadiri oleh sejumlah figur penting, di antaranya Kepala Hubungan Sepak Bola Internasional Manchester United, Jean-Claude Blanc, pemilik Everton, Dan Friedkin, yang hadir mewakili kapasitasnya sebagai pemilik klub AS Roma.

Sebagai informasi, juara Liga Inggris itu dituduh melakukan beragam pelanggaran finansial.

Sorotan utama tertuju pada dugaan manipulasi pendapatan sponsor dari perusahaan-perusahaan terafiliasi, serta transaksi pembayaran di luar pembukuan lainnya, yang digunakan sebagai celah untuk menghindari regulasi keuangan. 

Pada hari Jumat (25/09/2026) lalu, terungkap Man City dinyatakan bersalah atas 114 dari total 115 dakwaan yang diajukan.

Situasi ini mendorong klub-klub pesaing mulai mencari nasihat hukum, terkait potensi kompensasi akibat dakwaan tersebut.

Sementara BBC Sport mendapat informasi, pihak klub akan mengajukan banding. Hingga saat ini, wujud sanksi hukuman belum diumumkan. 

Namun, ancaman konsekuensinya bervariasi mulai dari pengurangan poin, denda berskala sangat besar, hingga potensi degradasi dari divisi utama.

Pihak liga sendiri menolak memberikan komentar, sedangkan pihak klub merilis pernyataan resmi yang menyebutkan bahwa proses Liga Inggris masih berlangsung dengan beberapa elemen penting yang harus diselesaikan, dan tunduk pada kerahasiaan yang ketat.

Di tengah situasi yang memanas, sang ketua Man City itu berusaha menenangkan barisan pendukungnya pada Sabtu (26/09/2026) waktu setempat. 

Al Mubarak meyakini sepenuhnya, tim akan mampu mematahkan segala tuduhan dan membuktikan bahwa mereka tidak bersalah.

“Proses Premier League masih panjang, dan keyakinan serta tekad kami untuk membuktikan bahwa klub tidak bersalah sama kuatnya dengan saat ini dimulai,” katanya. 

Ia juga menambahkan, ada batasan-batasan hukum yang membuatnya tidak leluasa untuk berbicara dan membeberkan informasi lebih detail di hadapan publik saat ini. 

“Ada begitu banyak hal yang ingin saya bagikan kepada Anda, untuk membantu memahami mengapa kami begitu yakin dengan posisi kami,” jelas Khaldon Al Mubarak.

“Namun, kerahasiaan ketat dalam proses hukum dan tekad kami untuk menghormatinya berarti saya tidak dapat melakukannya saat ini.”