Kepulangannya disebut menjadi bagian dari upaya membangun kembali kekuatan PSIS sekaligus mengejar target promosi ke kasta tertinggi.

Kini, hanya dalam hitungan pekan setelah kembali, Hari Nur sudah memberikan bukti nyata.

Bukan lewat kata-kata. Bukan pula sekadar nostalgia. Tetapi melalui gol.

Hari Nur memang sudah berusia 37 tahun. Namun, usia tersebut belum membuat naluri seorang penyerang berpengalaman menghilang.

Justru ketika PSIS membutuhkan sosok yang tenang menghadapi tekanan, Hari Nur hadir.

Itulah salah satu nilai yang dibawa pemain senior ke dalam sebuah tim: pengalaman membaca situasi, ketenangan, dan kemampuan memanfaatkan peluang pada momen penting.

Gol di menit ke-89 melawan Semen Padang menjadi contoh paling aktual.

PSIS mungkin belum mendapatkan kemenangan, tetapi satu poin tersebut terasa penting karena mereka sempat tertinggal hampir sepanjang pertandingan.

Nama Hari Nur pun kembali menjadi pembicaraan. Ia masih bisa menjadi bagian penting dari cerita baru PSIS Semarang.

Gol dari King Hari Nur mungkin menjadi awal dari babak baru: bukan lagi sekadar cerita tentang legenda masa lalu, tetapi tentang seorang senior yang masih mampu memberikan kontribusi di lapangan. (wartabanjar.com)