Menurut Yopi, kejadian di Jl Golf tersebut menunjukkan karakteristik lahan gambut yang memiliki potensi menyimpan bara di lapisan bawah tanah.

Meski permukaan lahan terlihat basah setelah pemadaman, api atau bara di bawah permukaan masih berpotensi bertahan dan kembali muncul.

“Ini membuktikan karakteristik lahan gambut. Di satu titik dalam sehari bisa tiga kali berulang, pagi sekitar 10.30, siang 13.30, kemudian menjelang magrib 18.30,” katanya.

Ia menjelaskan, kondisi permukaan yang terlihat basah tidak serta-merta berarti api telah sepenuhnya padam.

“Di lapisan bawah tanah itu masih ada potensi api atau asap,” pungkasnya.

Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla di lahan gambut membutuhkan kewaspadaan dan pemantauan berulang untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kobaran api. (Wartabanjar.com)