Dampak Kematian Massal Ikan, Warga Banjar Diminta Stop Sementara Konsumsi Air Sungai
WARTABANJAR.COM, MARTAPURA - Air Sungai Martapura Kabupaten Banjar mulai tercemar oleh kematian massal ikan dari kawasan keramba jaring apung di Kecamatan Astambu dan Karang Intan.
Kualitas air Sungai Martapura pun berkurang bahkan dapat memberi dampak negatif apabila dikonsumsi warga.
Oleh karena itu, Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kabupaten Banjar mengimbau kepada warga agar sementara tidak memakai atau mengonsumsi air sungai.
"Untuk sementara kami mengimbau masyarakat tidak menggunakan air sungai sampai kajian lebih lanjut selesai," ujar Plt Kepala DPRKPLH, Sutiyono, Kamis (16/7/2026).
Mengenai kebutuhan air bersih warga yang diminta tidak mengonsumsi air sungai, Sutiyono mengatakan akan dipenuhi melalui pasokan air dari pemerintah daerah.
"Karena air sungai sementara belum layak digunakan, kami akan menyuplai kebutuhan air bersih masyarakat," katanya.
Baca Juga: Wilayah Kematian Massal Ikan di Banjar Meluas, 200 Karamba Rusak Kerugian Rp1,3 Miliar
Baca Juga: Ikan Mati Massal di Keramba Sungai Martapura Kabupaten Banjar
Terkait masih banyaknya bangkai ikan yang mengapung di sungai, Sutiyono mengatakan pihaknya bersama Dinas dan instansi terkait terus melakukan pembersihan.
Aksi ini terutama dilakukan di kawasan Desa Sungai Arfat.
Bangkai ikan yang berjumlah ratusan hingga ribuan itu lalu dikubur dalam tanah untuk mengurangi pencemaran sungai dan dampak lingkungan lainnya.
Ia pun mengingatkan agar pembudidaya ikan juga aktif membuang bangkai ikan karena bila dibiarkan pencemaran akan meluas mengikuti arus sungai.
Tak hanya di aliran Sungai Martapura, wilayah kematian ikan secara massal di Kabupaten Banjar juga meluas.
Bila sebelumnya di kawasan Desa Mali Mali dan Sungai Arfat Kecamatan Karang Intan serta Desa Pingaran Ilir dan Pingaran Ulu Kecamatan Astambul yang kesemuanya berada di aliran Sungai Martapura, kini kondisi serupa terjadi di kawasan budidaya aliran Sungai Riam Kanan.
Jenis ikan yang terbanyak mengalami kematian massal ini adalah bawal dan nila, yang diperkirakan lebih dari 50 ton.