WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN- BMKG telah mengumumkan potensi kemarau ekstrem El Nino Godzilla diprediksi bakal dialami Indonesia 2026 ini, termasuk juga Kalimantan Selatan.
BMKG menyebut iklim ekstrem ini diprediksi mulai Mei ini dengan puncaknya sekitar Agustus 2026.
Pihak berwenang Kalimantan Selatan seperti Pemprov, Badan Penanggulangan Bencana Daerah hingga DPRD Kalsel pun sudah bersiap menghadapi fenomena alam ini.
Tak hanya El Nino Godzilla, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) juga berpotensi terjadi.
Komisi I DPRD Kalsel dan BPBD Kalsel bahkan belum lama ini berkonsultasi langsung ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta terkait langkah apa saja yang harus dilakukan untuk menanggulangi El Nino Godzilla ini.
Lantas, apakah itu El Nino Godzilla? dan seberapa parahkah dampaknya terhadap kemarau? Apa bedanya dengan El Nino biasa?
Berikut ini penjelasannya:
Beda El Nino Biasa dengan El Nino Godzilla
Mengutip berbagai sumber, Minggu (3/5/2026), El Nino Godzilla adalah fenomena iklim ekstrem yang bisa membuat kemarau makin ganas.
Fenomena El Nino “Godzilla” belakangan ramai dibicarakan, terutama karena diprediksi bakal berdampak besar ke Indonesia.
Meski namanya terdengar seperti monster film, istilah ini sebenarnya merujuk pada kondisi El Nino super kuat yang bisa memicu perubahan cuaca ekstrem, terutama kemarau panjang.
Para ahli menyebut, fenomena ini bukan hal baru, tetapi levelnya jauh lebih intens dibanding El Nino biasa.
Secara sederhana, El Nino sendiri adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian ekuator.
Ketika suhu ini meningkat drastis, pola angin dan pembentukan awan berubah, sehingga wilayah seperti Indonesia justru mengalami penurunan curah hujan.
BACA JUGA: Komisi I DPRD Kalsel ke BNPB Konsultasi Langsung Langkah Antisipasi El Nino Godzilla & Karhutla
Akibatnya, musim kemarau bisa datang lebih cepat, lebih panjang, dan lebih kering dari biasanya.
Lalu, kenapa disebut “Godzilla”?







