Ia menambahkan, beberapa peserta juga menghadirkan konsep yang berbeda dari biasanya. Tidak hanya berbentuk masjid atau langgar, tetapi juga menampilkan kreasi lain seperti taman Ar-Raudhah.
Menurutnya, selama karya tersebut masih menggambarkan keindahan dan semangat Ramadan di Banjarbaru, konsep tersebut tetap sesuai dengan tema yang diusung.
“Yang penting sesuatu yang di Banjarbaru terasa elok,” ujarnya.
Selain itu, kreativitas peserta juga terlihat dari penggunaan berbagai bahan untuk membuat tanglong, termasuk memanfaatkan material sederhana hingga sampah plastik.
”Ini menunjukkan kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan bahan yang ada untuk menghasilkan karya yang menarik,” terangnya.
Ia juga mengapresiasi kembali digelarnya Festival Tanglong di Banjarbaru yang selama ini dikenal sebagai salah satu tradisi khas kota tersebut.
“Festival Tanglong ini sebenarnya sudah cukup lama tidak ada, padahal orang mengenal Festival Tanglong itu identik dengan Banjarbaru,” katanya.
Ke depan, ia berharap pelaksanaan festival serupa dapat dipersiapkan lebih matang sehingga para peserta dapat menampilkan karya terbaiknya sejak awal kegiatan.
“Mudah-mudahan untuk tahun depan persiapannya lebih siap lagi, karena tadi masih ada peserta yang terlihat memperbaiki karyanya di lokasi,” ujarnya.
Terkait konsep pelaksanaan festival, Bang Ben menilai penampilan tanglong di satu lokasi khusus sudah tepat untuk kondisi Banjarbaru saat ini.







