“Kita akan melihat ketersediaan anggaran, apalagi ada penyesuaian anggaran secara nasional. Namun prinsipnya, sentra-sentra produksi akan kita prioritaskan,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan hilirisasi.
Selama ini, sejumlah daerah lebih banyak mendistribusikan gabah.
Ke depan, pemerintah mendorong agar nilai tambah dapat dinikmati lebih besar melalui distribusi dalam bentuk beras.
“Harapannya, bukan hanya gabah yang keluar dari daerah, tetapi berasnya. Dengan begitu ada nilai ekonomis yang lebih tinggi bagi penggilingan padi maupun masyarakat,” tambahnya.
BACA JUGA: Teror Bom Molotov Gegerkan Banjarmasin Utara, Polisi Intensifkan Patroli dan Buru Pelaku
Upaya penguatan lumbung pangan ini sejalan dengan misi pembangunan pertanian daerah dalam meningkatkan produksi, memperkuat cadangan pangan, serta menjaga stabilitas harga.
Indeks Ketahanan Pangan Kalimantan Selatan pada 2025 tercatat berada pada posisi yang membanggakan secara nasional.
“Prestasi ini harus kita pertahankan dan tingkatkan. Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tetapi juga bagaimana kita menyimpan, mengelola, dan mendistribusikan pangan secara efektif,” tutupnya.
Melalui kolaborasi pemerintah provinsi, kabupaten/kota, serta dukungan para petani dan pelaku usaha, Pemprov Kalsel optimistis ketahanan pangan daerah akan semakin kokoh dan berkelanjutan di tahun 2026. (wartabanjar.com/mckalsel)
Editor: Yayu







