Tradisi Turun Temurun, Tarawih di Desa Masingai Kecamatan Upau Menjadi Panggung Dakwah Para Pemuda
WARTABANJAR.COM, TANJUNG - Pelaksanaan ibadah tarawih di sejumlah mushola dan masjid di Desa Masingai, Kecamatan Upau, Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan memiliki tradisi yang berbeda dari kebanyakan daerah lainnya.
Usai menunaikan salat tarawih dan witir jamaah tidak langsung beranjak pulang.
Mereka tetap bertahan di tempat ibadah untuk mengikuti tausiyah singkat atau yang lebih dikenal dengan kultum (kuliah tujuh menit).
Tausiah tersebut dibawakan secara bergiliran oleh para ulama, pemuka agama, tokoh masyarakat, hingga kalangan pemuda.
Menariknya, para pemuda yang sedang menjalani libur sekolah dari pondok pesantren turut diberi kesempatan mengambil peran. Mereka dijadwalkan menjadi muadzin, imam salat, sekaligus menyampaikan kultum secara bergantian.
Salah seorang tokoh agama Desa Masingai II sekaligus pengurus Mushalla Al Ikhlas, Kasani, menjelaskan kegiatan tersebut bukan hal baru. Tradisi ini telah berlangsung sejak tahun 1978 dan terus dilestarikan hingga sekarang.
“Setiap tahun selalu kita laksanakan. Ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat di sini,” ujar Kasani kepada wartabanjar.com, Sabtu (21/2/2026).
Menurut dia, kegiatan tersebut menjadi wadah pembinaan sekaligus ruang praktik bagi generasi muda yang menempuh pendidikan agama di berbagai pesantren.
“Banyak anak-anak muda Masingai yang mondok di berbagai daerah. Ada yang di Pasuruan, ada yang di Gontor Ponorogo, Martapura, Amuntai, Barabai dan juga disejumlah pesantren lokal di Tabalong. Saat libur, kita beri ruang agar mereka bisa mengaplikasikan ilmunya,”beber Kasani.
Ia menambahkan, pelibatan pemuda dalam kegiatan keagamaan diharapkan dapat menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus memperkuat kaderisasi ulama di desa.
Tak berhenti pada kultum, rangkaian kegiatan malam Ramadhan di Desa Masingai masih berlanjut dengan tadarus Alquran secara berkelompok. Setiap kelompok terdiri dari lima hingga enam orang, dengan jumlah kelompok mencapai enam hingga tujuh kelompok dalam satu masjid atau mushalla.
Peserta tadarus pun beragam, mulai dari anak-anak, remaja, hingga kalangan dewasa, baik bapak-bapak maupun ibu-ibu. Suasana kebersamaan dan kekhusyukan pun terasa hingga selesai.