Cerita film berlatar tujuh tahun sebelum peristiwa “Saranjana”, dengan fokus pada konflik rumah tangga Badri dan Rusmiati.
Tekanan adat serta tuntutan untuk memiliki keturunan membuat Rusmiati memilih mempelajari ilmu kuyang, yang kemudian memicu teror di desa.

Horor dengan Tafsir Sosial
Bagi Muhammad Yani, “Kuyank” tidak berhenti pada unsur horor semata. Ia melihat sosok kuyank sebagai metafora rasa insecure dalam kehidupan manusia, terutama ketika tekanan sosial, budaya, dan keluarga hadir bersamaan.
Dalam pandangannya, sebagian masyarakat Banjar masih percaya pada praktik tenung, membilang, atau panambaan. Realitas sosial tersebut tergambar dalam film sebagai faktor yang memengaruhi keputusan tokoh Rusmiati.
“Kuyank bukan sekadar makhluk gaib. Ia bisa dibaca sebagai bayangan ketakutan manusia akan kehilangan,” tulisnya.
Ia menilai tekanan dari mertua, tuntutan keturunan, hingga persoalan ekonomi menjadi akumulasi konflik batin yang akhirnya menyeret seseorang pada pilihan ekstrem.
“Di situ terlihat bagaimana rasa insecure bisa melahirkan konflik, bahkan kekerasan. Padahal yang dibutuhkan sebenarnya adalah empati dan saling memahami,” ucapnya.
Dukungan untuk Karya Lokal dan Budaya Banjar
Muhammad Yani menegaskan, film “Kuyank” bukan hanya tontonan horor, tetapi juga potret dinamika sosial masyarakat Banjar yang masih kuat dengan tekanan budaya dan kepercayaan tradisional.
“Kisah lokal seperti ini punya nilai artistik. Tinggal bagaimana dikemas dengan baik agar menjadi dokumentasi budaya, bukan sekadar cerita mistik,” katanya.
