WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Skandal dugaan pelecehan seksual yang menyeret oknum guru di sebuah SMA kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, kian menggelinding liar. Fakta baru mulai terkuak: jumlah korban diduga tidak berhenti pada satu atau dua orang. Kuasa hukum korban menyebut, praktik menyimpang ini kuat diduga sudah berlangsung lama, namun terkubur karena korban memilih diam.
Kuasa hukum korban, Wanda Al-Fathi Akbar, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima informasi dari sejumlah siswi lain yang mengarah pada pola pelecehan berulang.
“Ada beberapa korban lain yang teridentifikasi. Selama ini mereka takut bicara. Estimasi kami, korbannya lebih dari dua orang,” ujar Wanda di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Berawal dari Keberanian Satu Korban
Kasus ini mencuat setelah seorang siswi berinisial N mengambil langkah berani dengan melapor ke Polres Metro Jakarta Timur. Laporan itu menjadi pintu masuk terbongkarnya dugaan pelecehan yang dilakukan melalui pesan WhatsApp bernuansa seksual, membahas fisik siswi secara tidak pantas.
Tak berhenti di situ, Wanda menyebut adanya dugaan pelecehan fisik berdasarkan penuturan korban lain.
“Bukti yang kami pegang saat ini memang masih verbal, berupa chat WhatsApp. Tapi dari pengakuan teman-temannya, ada indikasi tidak hanya lewat pesan, tapi juga fisik,” tegasnya.
Sekolah Diminta Tidak Cuci Tangan
Meski dua oknum guru yang diduga terlibat telah diberhentikan, pihak korban menegaskan tanggung jawab sekolah belum selesai. Pendampingan psikologis dan dukungan penuh dalam proses hukum dinilai mutlak, mengingat trauma berat yang dialami para korban.
