Menguliti Akulturasi: Saat Tradisi Baayun Maulid Dibedah dari Kacamata Intelektual

WARTABANJAR.COM, PELAIHARI– Upaya menggali kedalaman makna di balik tradisi lokal menjadi fokus utama dalam diskusi literasi yang digelar pemuda Tanah Laut.

Bertempat di Gedung Pemuda, Sabtu (31/1/2026), Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Tanah Laut (HPPMTL) sukses menyelenggarakan bedah buku bertajuk “Dialektika Paham Keagamaan dan Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Baayun Maulid.”

Forum ini bukan sekadar ajang kumpul biasa, melainkan ruang dialektika yang mencoba membedah bagaimana ajaran Islam mampu tumbuh harmonis dan menyatu dengan budaya lokal tanpa menghilangkan substansi religiusnya.

Mewakili Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Kadispora) Tanah Laut, Hermiadi selaku Analis Kebijakan Muda pada Sub Koordinator Infrastruktur dan Kemitraan Pemuda, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif ini.

Menurutnya, kolaborasi antara tradisi dan nilai keislaman adalah aset daerah yang harus terus dikaji secara saintifik oleh generasi muda.

“Ilmu yang didapat dari kegiatan bedah buku ini sangat bermanfaat dan diharapkan dapat terus berkembang. Harapannya, ilmu dan manfaat dari kegiatan ini tidak hanya berhenti pada diskusi, namun juga dapat dituliskan kembali dalam bentuk buku,” tegas Hermiadi di hadapan para peserta.

Diskusi ini menghadirkan langsung sang penulis, Dr. Wahyudi Rifani, M.Pd.I, yang mengupas tuntas latar belakang risetnya.

BACA JUGA: Harga Emas Melonjak Tajam, Begini Cara Menghitung Zakat Emas Sesuai Ajaran Islam

Suasana diskusi semakin tajam saat Dr. H. Hasnani Isma A. Kutai, M.Sc, yang merupakan pendiri HPPMTL sekaligus pembedah buku, memberikan tinjauan kritis mengenai kekuatan nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam prosesi ayunan maulid tersebut.

Baca Juga :   Distanhorbun Tala Putar Otak Ajak Petani Tinggalkan 'Banih Tahun' Demi Lipat Gandakan Hasil

Baca Lebih Lengkapnya Instal dari Playstore WartaBanjar.com

BERITA LAINNYA

TERBARU HARI INI

paling banyak dibaca