Perubahan Iklim Picu Lonjakan Sambaran Petir, BMKG Catat Jutaan Kilatan di Wilayah Ini
WARTABANJAR.COM – Perubahan iklim global tak hanya memicu cuaca ekstrem, tetapi juga berdampak langsung pada lonjakan aktivitas sambaran petir di berbagai wilayah Indonesia. Fenomena ini menjadi sinyal serius dari perubahan kondisi atmosfer akibat pemanasan global dan aktivitas manusia.
Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Sumawan, menjelaskan bahwa perubahan iklim merupakan faktor dominan meningkatnya intensitas petir, dibandingkan faktor cuaca sesaat seperti angin lokal atau aktivitas siklon.
“Perubahan iklim adalah penyebab utama. Sedangkan angin sesaat dan siklon sifatnya hanya mikro,” ujar Sumawan, Senin (19/1/2026).
Emisi Gas Rumah Kaca Perkuat La Nina dan El Nino
Sumawan mengungkapkan, emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia telah mengubah pola El Nino–Southern Oscillation (ENSO). Akibatnya, fenomena La Nina dan El Nino kini terjadi lebih kuat dan lebih sering.
Saat La Nina atau kemarau basah berlangsung, hujan turun hampir sepanjang tahun, memicu pembentukan awan kumulonimbus—jenis awan tinggi yang menjadi sumber utama energi petir.
Sebaliknya, ketika El Nino menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan langit cenderung cerah, intensitas sambaran petir justru menurun karena minimnya pembentukan awan.
“Kalau ada hujan, berarti ada awan kumulonimbus. Setiap muncul kumulonimbus, selalu ada aktivitas petir,” jelas Sumawan.
Jutaan Sambaran Petir di NTB
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terjadi lonjakan signifikan jumlah sambaran petir di Nusa Tenggara Barat (NTB) selama periode La Nina pada 2024 dan 2025.
Tahun 2024: tercatat 2,63 juta sambaran petir
Tahun 2025: tercatat 1,15 juta sambaran petir
Daerah dengan sambaran petir terbanyak adalah Kabupaten Sumbawa, dengan jumlah mencapai 1,64 juta kali pada 2024 dan 705.145 kali pada 2025.
Banyak Sambaran Tak Disadari Masyarakat
Sumawan menambahkan, banyak aktivitas petir yang tidak disadari masyarakat, terutama petir awan ke awan, karena tidak selalu tampak atau terdengar secara langsung.
BMKG sendiri memantau aktivitas petir menggunakan peralatan khusus pendeteksi petir yang bekerja setiap kali terbentuk awan kumulonimbus.