WARTABANJAR.COM, BARABAI – Di hamparan sawah Desa Tanah Habang, sosok kakek renta tampak setia berdiri di antara padi yang mulai menguning. Dialah Saberi (74), petani sepuh yang hingga kini masih menghabiskan hari-harinya di sawah, menjaga padi dari serangan hama dan burung, sekaligus merawat harapan yang telah ia tanam sejak puluhan tahun silam.
Bagi Saberi, sawah bukan sekadar lahan pertanian, melainkan ruang hidup yang menopang hari tuanya. Ia telah turun ke sawah sejak usia 25 tahun. Kini, ketika rambutnya memutih dan tubuhnya tak lagi sekuat dulu, semangatnya tetap sama. Ia telah menjadi “kayi”, sebutan orang Banjar untuk kakek, namun jiwanya masih teguh sebagai petani.
Musim tanam kali ini, Saberi menanam padi varietas Sihirang Sopar. Usia tanam sudah memasuki sekitar 100 hari atau tiga bulan. Seluruh tahapan budidaya ia jalani sendiri, mulai dari menaradak, betanjang, pemupukan, hingga penyemprotan yang telah dilakukan lima kali. Jika cuaca bersahabat, panen diperkirakan berlangsung pada Februari mendatang.
Namun, perjalanan menuju panen bukan perkara mudah. Tikus kerap merusak batang padi, wereng menghisap cairan tanaman hingga melemah, sementara hama bilaho atau walang sangit menyerang saat padi mulai berbuah. Di saat bersamaan, burung-burung datang berkelompok mengincar bulir padi yang mulai menguning.
“Kalau sudah musim buah, burungnya banyak sekali,” tutur Saberi saat ditemui di sawah, Senin (12/1/2026).
Hampir seharian penuh ia bertahan di sawah. Dengan alat seadanya, Saberi menggantung kaleng bekas, membuat orang-orangan sawah sederhana, dan menciptakan berbagai cara agar burung menjauh dari padinya.













