WARTABANJAR.COM, YOGYA – Dunia sepak bola Yogyakarta diguncang insiden keras dalam kompetisi Liga 4 musim 2025/2026. Seorang pemain KAFI Jogja FC, Dwi Pilihanto Nugroho, resmi dijatuhi sanksi larangan bermain sepak bola seumur hidup setelah terbukti melakukan tindakan berbahaya dengan menendang kepala lawan di tengah pertandingan.

Keputusan tegas tersebut dikeluarkan Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI DIY melalui Surat Keputusan Nomor 005/Pandis_Liga4DIY_PSSI_DIY/I/2026. Dalam keputusan itu, Dwi dinyatakan melanggar sejumlah pasal dalam Kode Disiplin PSSI 2025, yakni Pasal 48, Pasal 49, Pasal 10, serta Pasal 19.

Tak hanya mendapat hukuman larangan bermain seumur hidup, pemain bernomor punggung 2 itu juga diwajibkan membayar denda administratif sebesar Rp1 juta.

Sekretaris Umum Asprov PSSI DIY, Wendy Umar Senoadji, menegaskan bahwa sanksi tersebut dijatuhkan setelah pihaknya menilai tindakan sang pemain telah mencederai nilai sportivitas dan membahayakan keselamatan lawan.

“Ini adalah pelanggaran serius terhadap prinsip fair play. Kami tidak mentoleransi tindakan kekerasan dalam sepak bola,” ujar Wendy, Kamis (8/1/2026).

Insiden itu terjadi saat laga KAFI Jogja FC melawan UAD FC di Lapangan Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul. Dalam video yang viral di media sosial, terlihat Dwi mengangkat kaki sangat tinggi hingga mengenai kepala pemain UAD FC, memicu kecaman luas dari publik.

Selain menjatuhkan sanksi kepada pemain, Asprov PSSI DIY juga melakukan evaluasi terhadap perangkat pertandingan. Rekaman video kejadian masih terus ditelaah untuk menilai unsur kesengajaan, intensi pemain, serta kinerja wasit dan ofisial pertandingan.

“Kami mendalami seluruh aspek, mulai dari tindakan pemain hingga peran perangkat pertandingan dalam mengawal jalannya laga,” jelas Wendy.

Ia menambahkan, pembinaan terhadap perangkat pertandingan sangat mungkin dilakukan apabila ditemukan kelalaian dalam menjalankan tugas.

Menurut Wendy, kasus ini menjadi peringatan keras bagi seluruh insan sepak bola di DIY agar menjunjung tinggi sportivitas dan etika bertanding.

“Sepak bola harus menjadi ruang yang aman, adil, dan bermartabat. Tidak ada tempat bagi tindakan yang mencederai fair play,” tegasnya.