Tanpa menunggu bantuan, Rere bersama para wali murid dari sekitar 15 kepala keluarga yang masih bermukim di Raranum berinisiatif membuka akses darurat. Dengan memanfaatkan kayu dan batu, mereka membuat jalur sementara agar anak-anak tetap dapat menjangkau sekolah.
“Yang penting anak-anak masih bisa datang belajar. Pendidikan tidak boleh terhenti meski kondisi sangat terbatas,” ujar Rere.
Kondisi bangunan sekolah pun belum sepenuhnya pulih. Sisa lumpur masih menempel di lantai dan perabot sekolah. Sejumlah buku pelajaran rusak akibat terendam air, sementara alat peraga belajar banyak yang tidak dapat digunakan.
Setiap hari, Rere membersihkan ruang kelas secara bertahap dan berupaya menyelamatkan buku-buku yang masih layak pakai. Saat ini, SD Kecil Raranum tercatat memiliki tiga siswa aktif dan dua calon siswa baru untuk tahun ajaran 2026.
Lebih dari sekadar mengajar, Rere berusaha menjaga semangat belajar anak-anak agar tetap tumbuh di tengah keterbatasan. Ia berharap perhatian pemerintah daerah segera datang, terutama untuk perbaikan jalan, jembatan, serta bantuan sarana pendidikan.
Dedikasi Guru Rere menjadi potret keteguhan tenaga pendidik di wilayah terpencil Balangan, yang terus menjaga harapan dan masa depan anak-anak meski berada dalam kondisi pascabencana. (Wartabanjar.com/Alfi)
Editor Restu







