Total kebutuhan konsumsi telur ayam ras nasional per tahun diperkirakan mencapai 6,487 juta ton. Dari jumlah tersebut, kebutuhan untuk program MBG pada 2025 hanya sekitar 1,96 persen atau setara 127.300 ton. Sementara itu, produksi telur nasional diproyeksikan mencapai 6,561 juta ton, sehingga masih berada pada posisi surplus.
Meski pasokan melimpah, pemerintah tetap memberi perhatian serius pada stabilitas harga. Harga telur ayam ras di tingkat konsumen diharapkan berada sesuai Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan sebesar Rp30.000 per kilogram.
“Peternak sudah berkomitmen menjaga harga di tingkat produsen pada kisaran Rp22.000 hingga Rp25.000 per kilogram. Dengan begitu, harga di konsumen seharusnya bisa dijaga di Rp30.000,” tambah Ketut.
Data Panel Harga Pangan Bapanas menunjukkan adanya tren penurunan harga telur ayam ras secara nasional dalam sepekan terakhir. Per 24 Desember, harga rata-rata telur ayam ras tercatat Rp31.595 per kilogram, turun dibandingkan sepekan sebelumnya dan sehari sebelumnya.
Provinsi dengan harga telur ayam ras terendah tercatat di Bali, yakni Rp27.635 per kilogram, atau sekitar 7,8 persen di bawah HAP. Pemerintah memastikan pengawasan harga akan terus diperketat agar masyarakat mendapatkan telur dengan harga yang wajar dan terjangkau.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)
editor: nur_muhammad

