WARTABANJAR.COM, PONTIANAK – Ketegangan memuncak di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, setelah 15 warga negara asing (WNA) asal China terlibat bentrokan dengan prajurit TNI dan warga sipil di area tambang emas PT Sultan Rafli Mandiri (SRM). Insiden ini diduga berakar dari sengketa kepemilikan manajemen perusahaan tambang.

Dua kubu saling mengklaim sebagai pengelola sah PT SRM. Manajemen lama dipimpin Li Changjin, sementara manajemen baru yang dipimpin Firman mengaku telah mengesahkan direksi baru melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada Juli 2025. Kedua pihak bersitegang, hingga menimbulkan kericuhan di lapangan.

Dua Versi Manajemen PT SRM

Manajemen versi lama menyatakan, 15 WNA China tersebut adalah staf teknis resmi yang bekerja di lokasi tambang. Li Changjin menegaskan, drone yang dioperasikan staf teknisnya berada di wilayah IUP PT SRM dan bukan kawasan terlarang. Namun, drone dan ponsel staf sempat disita pihak keamanan versi baru dan TNI sebelum akhirnya dikembalikan.

Sebaliknya, manajemen versi baru menilai aktivitas penerbangan drone tersebut dilakukan tanpa izin dan memicu kecurigaan pengamanan internal. Kuasa hukum manajemen baru, Muchamad Fadzri, menyayangkan insiden yang berujung penyerangan terhadap aparat TNI. “Kami turut prihatin dan menyampaikan permohonan maaf kepada pimpinan TNI karena ulah WNA menyebabkan aparat menjadi korban,” ujar Fadzri.

TNI Dituduh Diserang

Kodam XII/Tanjungpura membenarkan keterlibatan prajurit Yonzipur 6/Satya Digdaya saat melaksanakan latihan dasar satuan. Kepala Penerangan Kodam, Kolonel Inf Yusub Dody Sandra, menyebut awalnya empat prajurit menindaklanjuti laporan pengamanan PT SRM terkait aktivitas drone tak dikenal. Jumlah WNA kemudian bertambah menjadi 15 orang dan terjadi penyerangan menggunakan senjata tajam, airsoft gun, dan alat setrum. Akibatnya, satu mobil operasional Toyota Hilux dan satu sepeda motor karyawan PT SRM rusak.

Prajurit TNI memilih menghindari konfrontasi lanjutan dan melaporkan kejadian ke komando. Kodam menyatakan masih menyelidiki kronologi, motif, dan tujuan penerbangan drone.

WNA Diamankan Imigrasi dan Dilaporkan ke Polisi