Ia mengungkapkan, banyak momen lucu sekaligus penuh makna selama proses belajar. Misalnya, saat para lansia belajar tentang pola makan sehat, manfaat berjalan 1.000 langkah, hingga diskusi panjang soal asam urat dan kebutuhan untuk bersabar menghadapi dinamika keluarga.
Sementara itu Wakil Bupati HST, Gusti Rosyadi Elmi, memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh peserta.
“Kegiatan Sekolah Lansia ini membuktikan bahwa semangat belajar tidak mengenal batas usia. Para lansia ini menjadi contoh bahwa kita bisa terus berkembang dan berkontribusi bagi keluarga dan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, program ini bukan hanya memberi ilmu, tetapi juga menghadirkan ruang kebersamaan, interaksi sosial, dan menjaga kesehatan mental para lansia.
Salah satu wisudawati, Barkiah (65) dari Desa Ta’al, mengaku sangat bahagia bisa mengikuti Sekolah Lansia. Ia bercerita bahwa program ini memberinya pengalaman baru yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Saya tidak menyangka bisa diwisuda seperti ini. Selama mengikuti sekolah, banyak sekali ilmu yang saya dapat. Tidak hanya mengaji, tetapi juga belajar tentang kesehatan, psikologis, hingga membuat kerajinan. Saya juga mendapat banyak teman baru, jadi tidak merasa sepi lagi,” tuturnya sambil tersenyum.
Kegiatan wisuda berlangsung penuh kehangatan. Para lansia melakukan pemindahan tali toga, pengalungan medali, dan menerima sertifikat sebagai tanda kelulusan enam bulan mereka bersekolah. Suasana haru dan bangga juga terasa di antara para pendamping dan panitia yang hadir.
Pemerintah berharap program Sekolah Lansia terus berkembang dan menjangkau lebih banyak desa, sehingga makin banyak orang tua di HST yang dapat merasakan manfaatnya. Di usia senja, mereka tetap membuktikan bahwa semangat belajar tak pernah padam. (wartabanjar.com/Adew)
Editor Restu







