Hingga akhirnya, di tengah keharusan mengambil keputusan cepat, mata pilot menangkap satu titik ganjil: sebidang kerikil basah yang membentang di tepi Aek Sihaporas (sungai setempat).
Itu adalah keputusan operasional di ujung tanduk; sebuah prosedur pendaratan non-standar yang belum pernah dilakukan di medan nyata. Komunikasi di kokpit terjalin singkat, namun menentukan:
“Pernah dilatih pendaratan di tepi air?” tanya pilot senior, dengan nada profesional yang tenang.
“Siap, Capt. Prosedur dilatih dan berhasil. Kami siap.”
“Oke good. Mari turunkan perlahan, di kerikil basah itu.” (wartabanjar.com/BNPB)
Editor Restu






