Ia menyinggung kondisi Bireuen yang mengalami kerusakan paling berat.
“Di Bireuen, tiga sampai empat kampung hilang. Sampai sekarang kita belum mengetahui kondisi masyarakat di sana,” ujar Muzakir.
Bantuan dari Malaysia merupakan hasil koordinasi cepat antara Pemerintah Aceh, pengusaha di Kuala Lumpur, dan pemerintah pusat.
Informasi awal menunjukkan tingginya kebutuhan obat untuk penyakit kulit, demam, diare, dan infeksi pernapasan yang banyak dialami penyintas di pengungsian.
Selain bantuan internasional, logistik dari Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) berupa sembako dan obat telah tiba pada Jumat malam.
Distribusi langsung dilakukan ke gudang penampungan untuk kemudian dikirim ke daerah prioritas.
Muzakir menegaskan, Aceh Utara menjadi fokus utama penyaluran logistik karena menjadi wilayah dengan dampak paling berat.
“Kami memastikan semua bantuan didistribusikan secara merata, terutama untuk masyarakat di Aceh Utara,” katanya.
Tim gabungan masih menghadapi kendala berupa jalan terputus dan cuaca buruk.
Pemerintah membuka opsi pengiriman bantuan dengan helikopter jika akses darat belum pulih dalam dua hari mendatang.
Pemerintah Aceh meminta masyarakat tetap tenang dan memantau informasi resmi terkait penanganan bencana. (wartabanjar.com/berbagai sumber)

