WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) mengumumkan rencana besar yang bakal mengguncang sektor badan usaha milik negara. Dari lebih dari 1.000 BUMN yang ada baik direct maupun indirect, hanya 200 perusahaan yang akan dipertahankan. Sisanya akan dilebur, dikonsolidasikan, atau dihapuskan.
Managing Director Danantara, Febriany Eddy, mengungkapkan bahwa hampir setengah dari BUMN saat ini mengalami kerugian, yang sebagian besar disebabkan oleh model bisnis yang tak lagi relevan dan keputusan pengelolaan yang tidak efisien.
“Hampir setengah dari seribu lebih BUMN kita itu rugi. Banyak yang dibuat dalam konteks berbeda dari kebutuhan hari ini,” ujarnya, seperti dikutip, Rabu (19/11/2025).
Febriany mencontohkan sektor telekomunikasi, di mana pekerjaan sederhana bisa tersebar ke 4–5 perusahaan berbeda, membuat margin keuntungan tergerus habis hanya karena tumpang tindih tugas.
“Margin hilang di situ. Jadi hal-hal yang seperti itu harus kita eliminasi,” tegasnya.
Ia menambahkan, banyak BUMN justru saling berkompetisi tidak sehat, bahkan “saling mematikan”, sehingga harga jasa ditekan terus hingga tak ada keuntungan sama sekali.







