WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Usai insiden keracunan massal yang mengguncang Kabupaten Bandung Barat dan menelan lebih dari seribu korban, Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya mengambil langkah tegas dengan menutup sementara 106 dapur pelayanan Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh Indonesia.
Kebijakan mengejutkan ini dikonfirmasi langsung oleh Kepala BGN, Dadan Hindayana, yang menegaskan bahwa penutupan dilakukan untuk evaluasi total sistem dapur MBG agar tragedi serupa tak terulang.
“Kasus di Bandung Barat itu murni karena kesalahan teknis dan kelalaian terhadap SOP. Semua harus dievaluasi ulang,” tegas Dadan, Selasa (21/10/2025).
Dadan menuturkan, BGN akan melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Setiap dapur yang melayani ribuan penerima manfaat akan diperiksa dari proses penyimpanan bahan makanan, distribusi, hingga pengawasan higienitas dapur.
“Kesalahan teknis seperti penyimpanan yang tidak sesuai dan tidak adanya kontrol suhu menjadi catatan serius. Kami tidak ingin lagi ada korban akibat kelalaian,” ujarnya.
Lebih dari 12.500 Dapur Gizi Aktif di Indonesia
Hingga 20 Oktober 2025, BGN mencatat lebih dari 12.500 SPPG aktif di seluruh Indonesia. Program MBG sendiri telah menjangkau lebih dari 36 juta penerima manfaat, mencakup anak-anak PAUD hingga SMA, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Menurut Dadan, capaian tersebut merupakan hasil kerja sama lintas sektor antara pemerintah pusat, daerah, dan komunitas lokal.
“Program MBG adalah komitmen pemerintah dalam memastikan pemerataan gizi bagi seluruh rakyat Indonesia. Tapi komitmen itu harus diiringi dengan disiplin tinggi dalam pelaksanaan,” ujarnya.

