WARTABANJAR.COM, CARACAS – Dunia internasional tengah dihebohkan oleh kisah penuh drama politik dari Venezuela! Maria Corina Machado, aktivis oposisi yang baru saja dinobatkan sebagai Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2025, mendapat hujatan pedas dari Presiden Nicolas Maduro, namun justru dipuji setinggi langit oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Dalam pidatonya pada Minggu (12/10/2025) di acara Indigenous Resistance Day, Maduro menyebut Machado sebagai “penyihir iblis” dan mengklaim bahwa “90 persen rakyat Venezuela menolaknya.”
“Kami menginginkan perdamaian, tetapi perdamaian dengan kebebasan dan kedaulatan,” ujar Maduro dengan nada tajam, tanpa menyebut nama Machado secara langsung.
Komite Nobel Norwegia menjelaskan, penghargaan bergengsi itu diberikan kepada Machado (58 tahun) atas “kerja tanpa lelah memperjuangkan hak-hak demokratis rakyat Venezuela serta upayanya menuju transisi damai dari kediktatoran menuju demokrasi.”
BACA JUGA: Suprapti Tri Astuti Siap Gaspol! Bappeda Kalsel Fokus Genjot Ekonomi dan Pembangunan Berkelanjutan
Machado dikenal sebagai tokoh oposisi paling vokal terhadap rezim Maduro, yang dituding menindas lawan politik dan menghancurkan sistem demokrasi di tengah krisis ekonomi yang menghimpit Venezuela.
Namun, di dalam negeri, citra Machado justru dibentuk secara negatif oleh pemerintah. Ia bahkan dijuluki “La Sayona” — sosok roh perempuan dalam legenda Venezuela yang menyeramkan — karena dianggap sebagai ancaman bagi kekuasaan rezim.
Machado dikenal memiliki hubungan erat dengan Amerika Serikat dan secara terbuka mendukung kebijakan Washington terhadap Caracas, termasuk mendukung manuver militer AS di perairan Karibia.
