WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Di tengah dominasi para petenis muda yang agresif dan cepat, Jessica Pegula membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk tetap bersaing di level tertinggi. Petenis berusia 31 tahun itu menjadi pemain tertua yang tersisa di Wuhan Open 2025, sekaligus mencatat sejarah sebagai petenis putri tertua yang mencapai semifinal di Beijing dan Wuhan pada musim yang sama.

Langkah Pegula ke semifinal bukan kebetulan. Ia menyingkirkan Katerina Siniakova lewat duel tiga set penuh perjuangan, 2-6, 6-0, 6-3, setelah sebelumnya juga melalui laga-laga berat di babak sebelumnya. Dalam laga itu, Pegula bahkan hanya kehilangan tujuh poin di set kedua bukti ketajaman naluri bermainnya.

“Saya bangga dengan kemampuan beradaptasi saya. Cuacanya lembap dan lambat, tapi saya dan tim bisa mencari cara untuk bermain lebih efisien,” kata Pegula dikutip dari laman resmi WTA, Sabtu (11/10).

Pegula menunjukkan kualitas seorang petenis berpengalaman. Ia mampu menjaga ritme dan membaca permainan lawan, memanfaatkan momen saat lawan lengah untuk membalikkan keadaan. Keteguhan mental itulah yang membuatnya terus bertahan di tengah serbuan generasi muda seperti Rybakina dan Gauff.

Meski usia tak lagi muda, Pegula masih memiliki stamina dan disiplin tinggi. Dalam dua turnamen terakhir, ia memainkan beberapa pertandingan tiga set dan selalu mampu menutup laga dengan solid. Pengalaman menjadi kunci kekuatannya.

“Saya tahu kapan harus sabar, kapan harus menyerang. Usia membuat saya lebih tenang menghadapi tekanan,” ujarnya tersenyum.

Kisah Pegula di Wuhan bukan hanya tentang statistik, tapi tentang ketekunan, dedikasi, dan konsistensi di dunia tenis yang semakin kompetitif. Ia menjadi bukti nyata bahwa pengalaman dan strategi bisa menandingi kecepatan dan kekuatan muda.

Kini, Pegula bersiap menantang Aryna Sabalenka di semifinal panas Wuhan Open 2025 duel yang akan menjadi ujian terakhir apakah pengalaman mampu menaklukkan kekuatan muda yang sedang berada di puncak. (Wartabanjar.com/berbagai sumber)

Editor: Andi Akbar