WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Kunjungan kerja Komisi IX DPR RI ke Balai Latihan Kerja (BLK) Kalimantan Selatan membuka fakta mengejutkan: sebagian besar peralatan pelatihan sudah usang dan anggaran yang tersedia jauh dari cukup untuk menampung tingginya minat peserta.
Kepala BLK Kalsel, Dr. Fatmasari Said, mengungkapkan harapannya agar kunjungan ini benar-benar membawa angin segar dalam bentuk peningkatan anggaran maupun bantuan pusat.
“Alhamdulillah kami sangat mengapresiasi kedatangan Komisi IX DPR RI. Mudah-mudahan apa yang kami ajukan melalui proposal bisa betul-betul terpenuhi,” ujarnya, Sabtu (27/9/2025).
Dr. Fatma membeberkan bahwa banyak peralatan pelatihan sudah berusia puluhan tahun dan tidak sesuai lagi dengan kebutuhan industri modern.
“Mesin bubut, misalnya, itu sudah sangat lama, mungkin 20 tahun. Kami sangat butuh upgrade,” tegasnya.
Selain itu, BLK Kalsel kini juga membuka program baru seperti barista, barber, hingga boga. Sayangnya, fasilitas untuk program kekinian tersebut masih sangat minim.
Tingginya antusiasme masyarakat untuk mengikuti pelatihan tidak sebanding dengan kapasitas yang tersedia.
Pada 2024, BLK Kalsel hanya bisa menggelar 24 paket pelatihan dari APBD dan 384 paket dari APBN, dengan kapasitas maksimal 16 orang per kelas.
“Yang mendaftar bisa ribuan, tapi hanya sedikit yang bisa kami tampung. Semua itu sangat tergantung pada anggaran,” ungkapnya.
Dr. Fatma menegaskan bahwa BLK tidak hanya fokus pada pelatihan formal, melainkan juga program informal seperti menjahit, boga, las, hingga servis AC—semua bisa langsung dimanfaatkan masyarakat untuk membuka usaha.







