WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menegaskan menjaga keamanan siber bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam satu waktu.
Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala BSSN, Letjen (Purn) Nugroho Sulistyo, saat ditemui disela kegiatan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Diskominfo se-Kalimantan Selatan, Kamis (25/9/2025).
Nugroho menekankan, pentingnya pendekatan security by design, di mana aspek keamanan sudah harus menjadi bagian sejak awal pembangunan sistem.
Wali Kota Banjarbaru Usulkan 420 Honorer Jadi PPPK Paruh Waktu
“Keamanan siber itu bukan produk akhir. Ia adalah proses yang harus dirancang, diuji, dan dipelihara secara berkelanjutan,” ujarnya kepada awak media.
Bukan hanya sekali diuji, sistem keamanan perlu terus-menerus dievaluasi. Melalui mekanisme seperti IT Security Assessment (ITSA), BSSN memastikan celah keamanan bisa dideteksi sejak dini, dan tidak menunggu hingga terjadi serangan.
Nugroho juga menyampaikan, sekalipun sebuah sistem hari ini dinyatakan aman, belum tentu besok tetap demikian.
“Teknologi selalu berubah, dan pelaku serangan juga semakin canggih. Apa yang hari ini solid, bisa jadi lemah esok hari karena munculnya teknologi atau metode serangan baru,” jelasnya.
Lebih lanjut, Nugroho mengungkapkan, keberhasilan pertahanan siber tidak hanya bergantung pada teknologi.
Ia menggarisbawahi tiga faktor kunci, yaitu teknologi yang andal, penerapan Multi-Factor Authentication (MFA), dan admin yang terlatih, tersertifikasi, dan paham risiko
“Kerap kali bukan karena teknologinya lemah, tapi karena pengelola sistemnya tidak siap. Di situlah serangan bisa masuk,” urainya.







