“Arab, Yahudi, Muslim, Kristen, Hindu, Buddha semua agama harus hidup sebagai satu keluarga manusia. Indonesia berkomitmen menjadi bagian dari visi ini,” katanya.
Ia mengajak seluruh pemimpin dunia untuk melanjutkan “perjalanan harapan” yang telah dirintis oleh para pendiri PBB. Menurutnya, Indonesia tetap memegang teguh prinsip internasionalisme, multilateralisme, dan semangat untuk mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
“Kami tidak akan pernah lupa, dan hari ini kita tidak boleh diam ketika Palestina ditolak keadilan dan legitimasi yang sama di ruang sidang ini,” ujar Presiden.
Mengutip pemikiran sejarawan Yunani Thukydides, Presiden menolak logika kekuasaan yang menindas.
“Thukydides pernah memperingatkan: ‘Yang kuat melakukan apa yang bisa mereka lakukan, yang lemah menderita apa yang harus mereka derita.’ Kita harus menolak doktrin ini. PBB ada untuk menolaknya. Kekuatan tidak bisa menjadi kebenaran. Yang benar harus menjadi benar,” tegasnya.
Dalam konteks kontribusi Indonesia terhadap perdamaian global, Presiden menyampaikan bahwa Indonesia saat ini merupakan salah satu kontributor terbesar pasukan penjaga perdamaian PBB.
Indonesia berkomitmen untuk terus aktif menjaga perdamaian secara nyata, tidak hanya melalui diplomasi, tetapi juga dengan penempatan pasukan di lapangan.
“Jika Dewan Keamanan dan Majelis Umum PBB memutuskan, Indonesia siap mengirim 20 ribu, bahkan lebih, putra-putri kami untuk mengamankan perdamaian di Gaza, Ukraina, Sudan, Libya, atau di mana pun perdamaian dibutuhkan,” ungkap Presiden.
“Kami juga siap menanggung beban, bukan hanya dengan tenaga manusia, tetapi juga melalui kontribusi finansial demi misi besar PBB,” tambahnya.(Wartabanjar.com/info publik)
Editor Restu







