Pesantren di Kuala Tambangan Ini Pinjam Laptop Tetangga untuk Ujian Santri

Saat ini, ponpes tersebut mendidik total 80 santri putra dan 61 santriwati. Namun, kondisi fasilitas antara santri putra dan putri sangat kontras.

Para santriwati masih menempati bangunan madrasah lama di tengah kampung dan berstatus pulang-pergi karena belum tersedianya asrama.

Pihak ponpes sebenarnya telah menyiapkan lahan seluas dua hingga tiga hektar untuk pembangunan kampus putri, namun terkendala dana.

“Untuk Putri ini belum ada dana untuk pembangunan. Nah, putri ini masih pulang pergi karena belum ada tempatnya tadi,” jelasnya.

Fasilitas penunjang pembelajaran modern seperti komputer juga menjadi barang langka. Untuk melaksanakan ujian asesmen yang berbasis digital, pihak ponpes terpaksa harus meminjam laptop dari berbagai pihak.

“Masih kurang. Karena laptop-laptop ada yang laptop pribadi yang digabung-gabung jadi satu, minjam ke desa, minjam ke tetangga,” tutur Ustad Ruba’i.

Meskipun telah menerima bantuan dari pemerintah daerah yang cair tahun ini setelah proposal diajukan tiga tahun lalu, kebutuhan ponpes yang terletak di ujung kampung ini masih sangat banyak.

Dengan segala keterbatasan itu, Ustad Ruba’i menyampaikan harapan besar agar pemerintah daerah dapat memberi perhatian lebih terhadap kondisi mereka.

“Ini bangunan masih perlu perbaikan WC-WC masih belum lengkap lagi. Untuk tempat kantor guru masih belum ada, pagar belum ada, gerbang belum ada. Kalau dilirik-lirik sedikit lah,” pungkasnya dengan nada berharap. (Wartabanjar.com/Gazali)

Editor Restu