Panen Padi Melimpah di Handil Negara, Petani Khawatir Hama dan Banjir
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, PELAIHARI - Hasil panen padi di Desa Handil Negara, Kecamatan Kurau, Kabupaten Tanah Laut, dilaporkan mengalami peningkatan signifikan.
Hal ini disambut gembira oleh para petani, sebab kenaikan hasil panen juga diikuti oleh harga jual yang memuaskan. Namun, di balik keberhasilan tersebut, petani masih menghadapi tantangan tahunan berupa hama dan ancaman banjir.
Kepala Desa Handil Negara, Supian Sauri, menjelaskan bahwa peningkatan ini tidak terlepas dari peran pemerintah daerah.
Baca Juga
Geger Warga Kampung Baruh Jaya Cari Orang Diduga Akan Bakar Rumah
"Kita sebagai pembakal Handil Negara menyampaikan tentang pertanian, untuk tahun ini 2025 sangat bagus, penghasilan padi meningkat daripada tahun sebelumnya, dan juga masalah harga padi itu sangat bagus," ujar Supian.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa keberhasilan panen ini tak lepas dari bantuan pemerintah, baik berupa edukasi pertanian maupun penyaluran bantuan pupuk.
Ia juga menambahkan bahwa harga padi saat ini sangat menjanjikan, yaitu Rp 7.000 per kilogram untuk padi basah (sebelum dijemur) dan Rp 8.000 per kilogram untuk padi kering.
Supian juga menjelaskan bahwa mayoritas warga desa adalah petani. Meskipun dalam setahun bisa panen hingga dua kali, hal ini hanya bisa dilakukan oleh petani-petani tertentu.
"Padinya yang satu padi tahunan, yang satunya padi R yang 3 bulan panen, Unggul," jelasnya.
Ketika ditanya soal keluhan petani, Supian Sauri mengatakan, "Untuk selama ini kalau berhasil ini tidak ada keluhan, biasanya yang ada keluhan tidak berhasil, masalah penyakit, masalah banjir itu yang dikeluhkan masyarakat."
Tanggapan positif juga datang dari salah satu petani, Marhani, yang tinggal di RT 1. Ia membenarkan bahwa harga padi saat ini lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
"Untuk yang basah di daerah kami di sini 68 lawan 70 (Rp 6.800 - Rp 7.000) pasarannya, kalau yang kering 80 (Rp 8.000). Harganya bagus dari pada sebelumnya," kata Marhani.
Marhani menambahkan bahwa pembeli padi di desanya kebanyakan berasal dari daerah setempat, dan belum ada intervensi dari Bulog.
"Bulog belum masuk, yang membeli dari daerah sini juga. Cuma harga standar pemerintah. Bulog di situ ada juga sama aja jua harganya," tambahnya.
Meskipun demikian, petani seperti Marhani masih berjuang melawan hama yang merusak tanaman. Marhani, yang menggarap sekitar 2 hektar sawah, menuturkan bahwa ia hanya bisa menanam sekali dalam setahun karena sulitnya mengatasi hama, terutama tikus dan burung.
"Kada kawa nanggulangi hama. Hamannya tikus dan burung," keluh Marhani. Ia juga sempat mencoba menanam dua kali pada tahun sebelumnya, namun hasilnya tidak maksimal.
"Yang tahun tadi (kemarin) kita coba juga 2 kali tapi kada kawa banyak," pungkasnya. (Wartabanjar.com/Gazali)
Editor Restu