WARTABANJAR.COM – Seorang penjual es kopi keliling yang mangkal di depan Gedung DPR RI harus menelan pil pahit. Ponselnya raib diduga dicopet saat kerumunan massa aksi berlangsung. Ironisnya, ketika ia dan warga sekitar meminta bantuan polisi yang berjaga di lokasi, jawaban yang keluar justru mengecewakan.
Kejadian ini terekam video dan viral di media sosial. Dalam rekaman terlihat penjual es kopi dibantu sejumlah warga dan driver ojek online. Salah seorang driver bahkan meminjamkan ponselnya agar korban bisa menelepon nomornya sendiri. Terdengar dering dari sekitar lokasi, tanda ponsel masih ada di lapangan. Harapan sempat muncul, hingga seorang pemuda mencoba meminta tolong pada polisi yang berdiri tak jauh dari sana.
Namun alih-alih turun tangan, polisi itu dengan santai menjawab ketus dan menolak membantu. Ia lebih sibuk menunduk menatap ponsel yang digenggam, sementara rakyat kecil di depannya sedang kehilangan barang berharga.
Sikap dingin ini langsung jadi bahan kecaman. Publik menilai, polisi seharusnya hadir memberi rasa aman, apalagi saat kejahatan terjadi tepat di depan mata. Apa artinya seragam dan kewenangan kalau sekadar berdiri tanpa peduli?
Lokasi kejadian bukan di gang sempit, bukan pula di pasar gelap. Ini terjadi pada selasa (2/9/2025) di depan Gedung DPR RI, simbol kekuasaan negara. Di ruang publik yang seharusnya paling aman karena dijaga aparat, justru rakyat kecil kehilangan dan dibiarkan berjuang sendiri.
Kasus ini menampar wajah kepolisian. Satu ucapan pendek seperti “bukan urusan saya” cukup untuk membuat publik kembali bertanya, siapa sebenarnya yang harus melindungi masyarakat jika polisi bisa dengan enteng menolak?
Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan resmi dari pihak kepolisian mengenai sikap oknum tersebut. Yang jelas, bagi penjual es kopi itu, ponsel yang hilang bukan sekadar alat komunikasi, tapi juga alat kerja dan penghubung hidupnya sehari-hari.(Wartabanjar.com/vri/berbagai sumber)

