Panen Padi Diprediksi Menurun pada 2025, Petani Banjarbaru Keluhkan Cuaca dan Jadwal Tanam
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU - Petani di Kota Banjarbaru tengah menghadapi tantangan serius dalam musim tanam tahun 2025. Mereka memprediksi hasil panen padi tahun ini akan mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kelurahan Palam, Rohim menyebutkan, berdasarkan dari pengamatannya di sejumlah sawah, hasil panen tahun ini kemungkinan berkurang.
"Contohnya di lahan Pak Yansah, tahun lalu bisa mencapai 12 sampai 15 blek. Tahun ini kelihatannya tidak sebanyak itu," ujar Rohim, saat dikonfirmasi, Rabu (27/8/2025) sore.
Baca Juga
Kasus Bocah Tenggelam di The Breeze Liang Anggang, Polisi Tetapkan 14 Orang Sebagai Tersangka
Ia menjelaskan, salah satu penyebab turunnya produktivitas adalah karena ketidakteraturan masa panen. Banyak petani menemukan padi yang matang tidak serempak, karena sebagian sudah siap panen, sebagian lainnya masih hijau.
"Karena ketidaksamaan tingkat kematangan, penggunaan mesin panen tidak maksimal. Akhirnya harus panen secara manual, dan ini sangat mempengaruhi hasil," ungkapnya.
Rohim menambahkan, ketidakteraturan pertumbuhan tanaman disebabkan oleh perubahan jadwal tanam akibat cuaca ekstrem. Normalnya, petani di Palam mulai menanam pada Maret hingga April. Namun, banjir pada awal tahun membuat banyak petani baru bisa menanam hingga Mei bahkan Juli.
"Tanamnya mundur karena banjir, otomatis itu berdampak ke produksi. Belum lagi keasaman tanah meningkat karena sawah sering tergenang, apalagi pas musim kemarau sebelumnya tanah mengeras, jadi saat terendam air, kadar asam naik," jelasnya.
Hal senada disampaikan oleh Yansah, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Karya Bakti Palam. Menurutnya, tahun ini panen kemungkinan besar menurun tajam.
"Kalau dihitung dari potensi panen, bisa jadi hanya sekitar 70 persen dari tahun lalu, atau bahkan lebih rendah karena banyak tanaman yang gagal," paparnya.
Yansah menyebutkan, tahun lalu dari satu hektare sawahnya ia bisa memanen hampir 5 ton beras. Namun untuk tahun ini, ia masih belum yakin bisa mencapai setengahnya.
Kondisi makin diperburuk oleh hujan yang masih terus turun karena Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Kalsel. Lahan sawah yang sudah siap panen malah kembali tergenang air.
"Daerah kami tadah hujan, bukan irigasi. Sungai-sungai kecil di sekitar juga tersumbat oleh gulma seperti putri malu, jadi air susah turun," keluh Yansah.
Ia berharap pemerintah dapat segera melakukan normalisasi sungai, membersihkan saluran air yang tersumbat dan memperdalamnya agar air bisa mengalir lancar.
"Harapan kami sederhana, semoga sungai-sungai yang tersumbat bisa segera dibersihkan agar lahan kami tidak terus-menerus kebanjiran," tutupnya. (wartabanjar.com/IKhsan)
Editor Restu