VIDEO – Tragedi Raya: Apakah Bukti Negara Tak Hadir Di Rumah Rakyat Miskin?

‎WARTABANJAR.COM – Jawa Barat sedang diguncang oleh kabar memilukan. Seorang balita tiga tahun bernama Raya, asal Desa Cianaga, Sukabumi, meninggal dunia akibat infeksi cacing gelang yang begitu parah hingga memenuhi paru-paru dan otaknya. Cacing-cacing itu bahkan keluar dari mulut dan hidungnya, pemandangan yang seharusnya tidak pernah dialami seorang anak kecil.

‎Lebih tragis lagi, Raya hidup dalam lingkungan yang sangat memprihatinkan. Rumahnya bercampur dengan kandang ayam, penuh kotoran, tanpa sanitasi yang layak. Ibunya mengalami gangguan jiwa, ayahnya mengidap TBC, dan sang nenek yang merawatnya tidak punya akses ke layanan kesehatan maupun jaminan BPJS. Seolah-olah, sejak lahir, Raya sudah dikelilingi tembok kemiskinan dan ketidakpedulian.

‎Pertanyaan besar pun muncul, di mana peran desa, PKK, posyandu, bidan desa, dan aparat yang seharusnya melindungi warga paling rentan? Bukankah negara hadir untuk memastikan tidak ada warga yang terabaikan? Fakta bahwa seorang anak bisa meninggal hanya karena cacingan, penyakit yang sesungguhnya bisa dicegah dengan obat murah dan program rutin, adalah tamparan keras bagi kita semua.

‎Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tidak tinggal diam. Ia menyampaikan duka, sekaligus amarah. Dana Desa Cianaga resmi dibekukan, sebagai bentuk sanksi atas kelalaian perangkat desa. Ia menegaskan, fungsi pelayanan dasar telah gagal total. Ini bukan sekadar teguran, tetapi sebuah peringatan keras, bahwa desa tidak boleh hanya sibuk mengurus proyek dan administrasi, sementara rakyat miskin mati di depan mata.

‎Kasus ini harus menjadi titik balik. Kita tidak bisa lagi menutup mata terhadap sanitasi buruk, akses kesehatan yang lemah, dan birokrasi desa yang abai. Raya hanyalah satu nama, tapi di luar sana mungkin ada puluhan, bahkan ratusan anak lain yang bernasib serupa, menunggu menjadi korban berikutnya.

‎Tragedi ini adalah alarm keras. Jika aparat desa tak peduli, jika pemerintah hanya berpura-pura hadir, maka anak-anak miskin akan terus tumbang sia-sia. Dan ketika itu terjadi, sesungguhnya bukan hanya desa yang gagal, melainkan kita semua sebagai bangsa yang membiarkan kemiskinan dan kelalaian merenggut masa depan anak-anaknya.(vri/berbagai sumber)