WARTABANJAR.COM, SUKABUMI – Indonesia kembali diguncang kabar memilukan. Seorang balita bernama Raya (3) asal Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Sukabumi ditemukan meninggal dunia dengan kondisi tubuh dipenuhi ratusan cacing hidup. Tragedi ini langsung memicu kemarahan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang menegaskan akan memberi sanksi tegas pada aparat desa yang terbukti lalai. Kronologi Penuh Nestapa Raya hidup dalam kondisi serba kekurangan. Ibunya mengidap gangguan jiwa (ODGJ), sementara sang ayah menderita TBC, sehingga pengasuhan sehari-hari jatuh ke tangan nenek. Mirisnya, Raya kerap bermain di bawah rumah panggung yang kotor, penuh ayam dan tumpukan kotoran. Relawan Rumah Teduh Sahabat Iin yang menemukan Raya dibuat terkejut. Dalam rekaman video, terlihat cacing gelang sepanjang 15 cm ditarik dari hidung bocah malang itu. Lebih mengerikan lagi, ratusan cacing keluar dari anus, kemaluan, bahkan sebagian menyebar ke otaknya. Berat total cacing yang bersarang di tubuhnya diperkirakan mencapai 1 kilogram. BACA JUGA:VIDEO – CCTV Rekam Pengendara Mobil Diduga Bawa Senjata Api Saat Cekcok dengan Pemotor di Tanah Bumbu Raya sempat dirawat, namun perjalanan medisnya terkendala karena ia tidak memiliki BPJS. Proses pembuatan kartu BPJS yang seharusnya bisa dipercepat justru berbelit-belit, membuat pihak relawan bolak-balik ke kantor desa dan dinas kesehatan tanpa hasil. Akhirnya, seluruh biaya perawatan dan pemakaman sebesar Rp23 juta ditanggung relawan. Raya menghembuskan napas terakhir pada 22 Juli 2025. Gubernur Dedi Murka, Siap Turunkan Sanksi Gubernur Dedi Mulyadi menyampaikan duka mendalam sekaligus rasa kecewa atas buruknya pelayanan dasar di tingkat desa. Ia menyoroti lemahnya fungsi Posyandu, PKK, dan tenaga kesehatan desa, yang seharusnya menjadi benteng pertama dalam mencegah tragedi semacam ini. “Saya minta maaf atas kelalaian sistem. Jangan hanya peduli setelah ada korban. Desa, RT, RW, dan semua aparatur harus bertanggung jawab. Bila terbukti lalai, akan ada sanksi tegas,” tegas Dedi. Ia juga mengirim tim khusus ke lokasi untuk memastikan keluarga Raya mendapatkan layanan medis, terutama bagi ayahnya yang masih sakit. Netizen Geram: "BPJS Saja Sulit, Rakyat Miskin Mau Harus Tunggu Mati?" Tragedi ini ramai diperbincangkan warganet. Banyak yang menumpahkan amarah karena birokrasi yang berbelit membuat anak kecil kehilangan nyawa. Beberapa komentar yang muncul: “Ga dibahas masalah pembuatan BPJS yang 3 hari dilempar sana-sini? Miris banget!” “Bantuan ke luar negeri gampang, tapi rakyat sendiri dibiarkan mati.” “Posyandu, RT, RW, PKK pada ke mana? Kok bisa anak sekecil itu hidup di lingkungan kayak gitu tanpa perhatian?” “Kisah pilu di negeri yang baru merayakan 80 tahun kemerdekaan.” Netizen juga menyerukan agar kasus ini jadi momentum perbaikan total sistem kesehatan dasar.(Wartabanjar.com/Sukabumi update/kumparan/Radar/Teropong/kompas/berbagai sumber) editor: nur muhammad