WBA Beberkan Asal Usul Ring Tinju Segi Empat dengan Sejarah Panjang

WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Pertandingan tinju di Kuta, Bali pada Maret 2021 menarik perhatian publik. Bukan hanya karena atmosfer sport tourism, tetapi lantaran perdebatan mengenai istilah “ring” yang tak kunjung berubah.

World Boxing Association (WBA) dalam laporan resminya menguraikan alasan gelanggang tinju tetap disebut “ring” meski berbentuk segi empat. Sebutan tersebut diyakini sudah dipakai selama ratusan tahun sejak awal kemunculan olahraga tinju.

Awalnya, petinju bertarung di dalam lingkaran yang digambar di tanah, dan keluar dari lingkaran berarti kalah otomatis. Namun, sejak 1838 London Pugilistic Society memperkenalkan arena berbentuk persegi di atas tanah, istilah “ring” tetap dipertahankan hingga hari ini. Aturan modern kemudian diperkuat oleh regulasi Marquess of Queensberry pada 1865 yang memperkenalkan sarung tangan, ronde tiga menit, dan knockdown terbatas waktu.

Sejarawan olahraga, Andi Widjaya, menilai tradisi ini menegaskan kuatnya simbol dalam dunia olahraga. “Meski bentuknya berubah, istilah ‘ring’ tetap dipertahankan karena mengandung nilai historis dan identitas,” tutur Andi dalam keterangan tertulis, Jumat (15/8/2025).