Tantangan yang dihadapi tidak ringan, sebab sebagian wilayah Kalsel baru memasuki musim kemarau pada Agustus dasarian kedua, sementara tujuh zona musim di bagian timur belum sepenuhnya masuk musim kemarau.
Adapun puncak kemarau diperkirakan terjadi pada akhir Agustus hingga September, sehingga potensi karhutla masih harus diantisipasi.
BMKG mencatat, berdasarkan pemantauan satelit per 13 Agustus 2025, tidak ada hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalsel. Namun Edison mengingatkan agar hal ini tidak membuat lengah.
“Prediksi pertumbuhan awan 7 hari ke depan menunjukkan peluang terbentuknya awan hujan yang mendukung pelaksanaan OMC. Dengan keberhasilan penyemaian garam, kita harapkan dapat menurunkan hujan di wilayah prioritas,” tambahnya.
Operasi Modifikasi Cuaca ini dilaksanakan selama 10 hari, dengan melibatkan sinergi BMKG, KLHK, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, dan TNI Angkatan Udara.
“Kami berharap pelaksanaan OMC ini berjalan lancar, aman, dan efektif dalam mengurangi titik panas serta menekan risiko kebakaran hutan dan lahan,” tutup Edison. (Wartabanjar.com/MC Kalsel)
Editor Restu







