WARTABANJAR.COM, BARABAI – Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) HST, hingga akhir Juli 2025 tercatat sebanyak enam kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah menghanguskan total 5,63 hektar lahan. Kepala Pelaksana BPBD HST, Akhmad Apandi, melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik, Fitriadinoor, menyebutkan bahwa kejadian paling luas terjadi di Desa Balanti, Kecamatan Labuan Amas Utara. “Dua kejadian di Balanti, masing-masing pada 21 Juli seluas 1,5 hektar dan 29 Juli seluas 2,5 hektar. Selain itu, kebakaran juga terjadi di Binjai Pirua (1 hektar), Wawai Gardu (0,03 ha), Kelurahan Barabai Timur (0,1 ha), dan Sungai Buluh (0,5 ha),” jelasnya kepada wartabanjar.com, Rabu (6/8/2025). Baca Juga BREAKING NEWS Gedung Polres Banjarbaru Terbakar Sejauh ini, penyebab karhutla didominasi oleh aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar sisa-sisa tanaman. Kondisi kemarau yang kian mengeringkan vegetasi juga turut memperbesar potensi kebakaran di wilayah rawan. Fitriadinoor menyampaikan bahwa BPBD HST telah menyiapkan sejumlah peralatan untuk penanganan darurat, seperti alat portabel jinjing dan portabel besar. Namun, ia mengakui bahwa ketersediaan peralatan belum sepenuhnya mencukupi, terutama untuk wilayah yang sulit dijangkau sumber air. “Kami masih kekurangan fasilitas seperti mobil tangki air, yang sangat dibutuhkan saat lokasi kebakaran jauh dari sumber air,” ungkapnya. Tak hanya itu, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) juga menjadi salah satu kendala dalam pemadaman kebakaran. Meski begitu, koordinasi terus dilakukan dengan pihak TNI/Polri dan relawan, sesuai prosedur tetap jika terjadi kebakaran. BPBD juga meminta keterlibatan masyarakat untuk segera melapor jika melihat titik api, baik ke kantor BPBD maupun melalui akun media sosial resmi BPBD HST. Fitriadinoor juga menyampaikan, pemantauan potensi karhutla turut dilakukan melalui berbagai saluran, termasuk laporan masyarakat dan pantauan media sosial. “Kami juga menggunakan aplikasi Sipongi sebagai alat bantu pendeteksian. Namun, ada kendala karena sensor pada aplikasi ini cukup sensitif, sehingga terkadang mendeteksi panas yang bukan titik api sebenarnya,” jelasnya. BPBD mengimbau masyarakat untuk lebih waspada di musim kemarau ini. “Jaga wilayah dan rumah masing-masing, hindari aktivitas yang memicu api, dan pantau terus informasi peringatan dari kami,” ujarnya. Pihaknya juga mengingatkan bahwa pembakaran lahan yang menimbulkan dampak luas, termasuk asap, dapat dikenai sanksi hukum sesuai aturan yang berlaku. (Adew) Editor Restu