“Sudah sembilan tahun saya tinggal di sini,” ujar Hafid tenang.
Meski masih memiliki keluarga besar dan pondok pesantren di Jember, Hafid merasa tidak betah berada di tengah keluarga.
“Saya anak tunggal, tapi punya tiga adik angkat. Mereka semua sarjana kesehatan. Kadang pulang ke Jember, tapi enggak kerasan, lalu balik ke sini lagi,” katanya.
Reaksi Netizen: Antara Haru, Takjub, dan Empati
Video Hafid yang viral diunggah akun Instagram @nyinyir_update_official sontak menyentuh hati ribuan netizen. Komentar-komentar penuh empati pun membanjiri:
“Beliau harusnya dilindungi, itu mentalnya down pasti… tapi beliau tetap kuat dan tawakal. Indonesia butuh dokter seperti beliau.”
“MasyaAllah… meski bergelar dokter lulusan terbaik UI, hidup beliau sangat rendah hati. Meninggalkan dunia demi mendekatkan diri pada Allah.”
“Sedih banget. Kehilangan istri dan anak memang bisa bikin hidup hancur. Tapi beliau tidak menyalahkan Tuhan—justru makin taat.”
Bukan Gila, Tapi Mungkin Seorang Sufi
Sebagian netizen bahkan menyebut Hafid bukan sedang mengalami gangguan mental, tapi menjalani hidup sebagai sufi, meninggalkan hiruk-pikuk dunia dan memilih jalan sunyi yang penuh spiritualitas.
“Jangan mudah menyebut orang ODGJ. Kita enggak tahu luka apa yang dia pikul. Hafid justru jadi bukti bahwa kehilangan besar bisa melahirkan jiwa yang kuat dan berserah.”
Ketika Dunia Tak Lagi Berarti
