WARTABANJAR.COM, BARABAI– Tahun ajaran baru 2025/2026 telah berjalan, namun SDN Sumbai, salah satu sekolah dasar di pedalaman Desa Atiran, Kecamatan Batang Alai Timur, Hulu Sungai Tengah (HST), tidak menerima satu pun peserta didik baru.
Kondisi ini menimbulkan keterbatasan dalam proses belajar mengajar sehingga membuka kemungkinan sekolah tersebut akan dialihfungsikan menjadi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) untuk program Paket A.
Kepala Sekolah SDN Sumbai, Saidi Rahman, menyampaikan bahwa situasi ini telah berlangsung cukup lama, tepatnya ketika ia menjabat sebagai kepala sekolah hampir tiga tahun terakhir, jumlah peserta didik di sekolah itu tidak jauh beda setiap tahunnya.
“Sejak saya mulai menjabat, murid yang lulus selalu lebih banyak dibanding yang masuk. Tahun ajaran 2022/2023 misalnya, yang lulus dua orang, masuk hanya satu orang. Tahun berikutnya lulus tiga, yang masuk hanya dua. Sekarang, di tahun 2025/2026, tidak ada murid kelas 1 sama sekali,” ujarnya kepada wartabanjar.com, Selasa (29/7/2025).
Faktor utama penyebabnya, kata Saidi, adalah jumlah penduduk yang semakin sedikit karena alasan ekonomi.
Banyak warga memilih pindah ke luar daerah seperti ke Malangkaian dan Sampanahan untuk mencari pekerjaan, otomatis membawa serta anak-anak mereka.
“Bahkan kalau dijanjikan hadiah pun tetap tidak ada yang mendaftar. Usia anak-anak di desa belum memenuhi syarat masuk SD. Saat ini usia 4 tahun hanya dua orang, usia 3 tahun empat orang, dan ada satu bayi usia 7 bulan,” jelasnya.
Saidi juga menggambarkan kondisi lingkungan pemukiman di sekitar sekolah.
Ia menyebutkan, ada dua kelompok rumah penduduk, yaitu pertama yang dekat sekolah ada 14 rumah berpenghuni dan 3 rumah tidak berpenghuni, biasanya hanya ditempati saat acara aruhan adat.
Lalu kedua, ada juga rumah-rumah yang jaraknya sekitar 500 meter dari sekolah, sebanyak 10 rumah berpenghuni dan 4 rumah tidak ada penghuninya.
Untuk mencapai sekolah, Saidi dan guru lainnya harus menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam menggunakan sepeda motor, melewati jalan berbukit dengan tanah liat.
Meskipun sebagian jalan sudah berpaving selama dua bulan ini, masih banyak jalur yang belum diperbaiki.
“Salah satu teman saya pernah jatuh dari kendaraan waktu hendak ke sekolah pagi-pagi, saat naik di tikungan ban motornya pecah,” tuturnya.
Ia menjelaskan, saat ini SDN Sumbai memiliki 12 siswa yang tersebar dari kelas 2 hingga kelas 6.
“Siswa yang aktif hadir setiap hari sekitar tujuh anak,” ungkapnya.
Meskipun dalam kondisi terbatas, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dengan dukungan tenaga pendidik dan kependidikan yang ada.
“Guru dan tenaga kependidikan di sekolah ini ada delapan orang, terdiri dari enam guru kelas, satu operator sekolah, dan saya sendiri sebagai kepala sekolah,” tambah Saidi.







