“Dulu kita melakukan gerakan memilah sampah memilah sampah secara cuma-cuma ya,” paparnya.
Dengan pola seperti ini, menjadi semangat baru bagi masyarakat yang melakukan pemilahan sampah mulai dari rumah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin, Alive Yoesfah Love, menuturkan Kegiatan ini sudah berlangsung dari 5 Juni lalu, bertepatan dengan momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
“Saat itu kami membagikan bakul sebagai simbol gerakan berkah tanpa plastik,” ungkap Alive.
Tak hanya itu, sejumlah kegiatan lingkungan juga turut digelar seperti penanaman pohon, program sedekah sampah hingga kegiatan memilah sampah berurutan atau teratur dari rumah.
Semua ini, lanjut Alive, bertujuan untuk mendorong kesadaran masyarakat agar mulai memilah sampah sejak dari sumbernya.
“Kita ingin masyarakat terbiasa memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Ini menjadi langkah awal untuk pengelolaan sampah yang lebih baik,” tuturnya.
Mengenai kondisi sampah di Kota Banjarmasin, Alive menjelaskan bahwa berdasarkan data yang disampaikan ke Kementerian Lingkungan Hidup, komposisi sampah kota didominasi oleh sampah organik sebesar 55 persen.
Menteri Lingkungan Hidup RI pun menargetkan agar Banjarmasin dapat menyelesaikan permasalahan sampah organik terlebih dahulu sebagai langkah awal.
“Kalau kita sudah bisa menangani sampah organik ini, berarti kita sudah bisa menyelesaikan lebih dari separuh persoalan sampah di kota ini. Sisanya tinggal penanganan sampah plastik dan campuran,” katanya.
Ia juga menyoroti antusias masyarakat dalam program penukaran sampah menjadi sembako yang sangat tinggi. Karena itu, Pemko Banjarmasin berencana memperluas program ini ke seluruh kecamatan dan kelurahan.
“Rencananya akan kita jadwalkan rutin di setiap kecamatan dan kelurahan. Dengan begitu, kesadaran masyarakat soal pemilahan sampah bisa semakin meningkat,” jelas Alive.
Meskipun jumlah timbulan sampah di Banjarmasin masih berada di angka 4.891 ton per bulan, namun jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) mulai mengalami penurunan.
“Penanganan sudah mencapai sekitar 18 persen. Memang masih ada yang belum tertangani dan dibuang sembarangan, tapi upaya terus kami lakukan,” pungkasnya. (Ramadan)
Editor Rest







